
Seperti halnya sarjana muda lainnya, ketika menyandang gelar sarjana justru diliputi perasaan cemas. Perasaan khawatir menghadapi dunia kerja. Demikian juga dengan saya kala itu.
Saya bingung tak karuan ketika selesai wisuda. Persediaan di perantauan sudah menipis. Pulang ke kampung dan mencari kerja di sana juga terasa berat karena kesempatan kerja di kampung sangatlah kecil.
Tapi siapa sangka, bukankah rejeki datangnya dari segala penjuru?
Benar saja, paman saya memberi tahu ada perusahaan penerbitan baru di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Membutuhkan banyak orang. Dengan pengalaman serba sedikit dari berorganisasi di kampus, paman saya yakin, saya bakal diterima. Benarkah?
*sigh* Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan usul paman. Kemudian, klik. Telepon ditutup. Saya terpekur sendiri.
Pangkalan Bun? Kalimantan Tengah? Borneo? Di sebelah mana itu??? Saya bahkan belum pernah dengar nama
PANGKALAN BUN. Saya cuma kenal Pangkalan Brandan di Sumatra.
Kemudian, di bukalah atlas. Saya cari-cari letak Pangkalan Bun. Hasilnya: Tidak puas.
Dibuka pula
Google. Mencari tahu, tempat seperti apakah Pangkalan Bun itu? Hasilnya : cukup puas
Terakhir, bertanyalah saya pada teman-teman. Dan ini yang membuat saya
down. Seorang kawan bercerita, bahwa ada kerabatnya yang bekerja di Kalimantan dan tak kunjung pulangl. Lima tahun baru pulang ke kampung halaman. Itupun sebentar.
Belum lagi, biaya hidup di Kalimantan yang teramat mahal. Karena semua barang didatangkan dari Pulau Jawa. Jadi, berapapun gaji saya, kata kawan, tetap sulit untuk menabung.
Ditambah pula dengan embel-embel di sana tidak ada tempat hiburan semacam mall, toko buku yang besar dan lengkap, bioskop, dan yang pasti sepi.
Cerita lain dari kawan saya, di Kalimantan, apalagi di kota kecilnya, masih banyak Suku Dayak asli. Dan yang menakutkan, kepercayaan mereka terhadap dunia mistis masih sangat kuat.
“Biasanya, orang yang sudah pernah ke Kalimantan, akan sulit untuk kembali ke kampungnya lagi. Intinya, kalau sudah minum air sungainya, kamu bakalan jadi orang sana selamanya!”
DEG! Mana saya nggak ada satupun famili di Kalimantan!
Oh my… Itulah deretan cerita-cerita yang bikin saya berpikir seribu kali untuk bekerja di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Sampai akhirnya, ketika saya harus berhadapan dengan si paman, terjadilah adu argumentasi. Saya keukeuh untuk membatalkan niat melamar kerja di Kalimantan. Seribu alasan saya sampaikan. Tentu, saya tidak mengutarakan alasan dari cerita-cerita kawan saya. Saya berusaha memberi alasan yang masuk akal. Dan paman saya Cuma menggelengkan kepala, kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Akhirnya, pulanglah saya ke rumah ibunda di kampung halaman. Baru setengah bulan, saya kembali dihinggapi sindrom sarjana muda. Mulai bosan di rumah karena tidak kunjung peroleh kerja. Saya teringat lagi dengan lowongan kerja di Kalimantan.
Tiba-tiba terbersit kemauan untuk menghubungi si paman, menanyakan, apakah lowongan itu masih ada?
Dan alhamdulillah, ternyata masih ada waktu satu minggu lagi. Maka dimulailah sesi berkirim surat lamaran, ikut test tertulis, psikotest, wawancara, sampai saya dinyatakan
DITERIMA.
Parahnya, ketika sudah mendapat informasi bahwa saya diterima, godaan kembali datang. Cerita-cerita dari teman tentang gambaran kota kecil di Kalimantan kembali terngiang. Menakut-nakuti. Ah… Grrrrrrrrrrr…..!
Mau nggak mau, saya pun utarakan masalah ini pada si paman. Kemudian meluncurlah, nasihat-nasihat bijak dari paman. Di antara banyaknya nasihat, yang paling saya pegang kuat-kuat adalah:
“Kalau kamu sudah menyerah sebelum berangkat, itu sama saja dengan kamu kalah sebelum berperang.”
Terasa sekali ada penekanan dalam kalimat ‘
KAMU KALAH SEBELUM BERPERANG!”
Kalimat ini sangat mengena. Saya merasa tertantang. Ya, saya tidak akan tahu dan tidak akan pernah tahu bagaimana masyarakat di Kota Pangkalan Bun kalau saya tidak mengalaminya sendiri. Saya hanya takut berlebihan. Padahal ketakutan itu duduk dan bersembunyi dalam pikiran saya sendiri.
Satu pesan paman ketika saya akan terbang dari Jakarta menuju Pangkalan Bun: ‘Jaga diri. Di negeri orang, pandai-pandailah membawa diri.
Carpe diem.’
Wow. Carpe diem? 
Waktu pun berputar, tidak terasa, saya sudah 3 bulan di Pangkalan Bun dan saya merasa betah. Saya pun memberi kabar pada paman. Beliau senang bukan kepalang.
Ya, memang terasa jauh dari keluarga, tidak ada mall, tidak ada bioskop, pun toko buku yang lengkap. Harga segala barang pun terpaut jauh dengan Jawa. Jelas saja, semua serba dipesan dari Jawa.
Tapi toh saya tidak kenapa-kenapa. Saya menikmatinya. Karena saya jadi mengenal dunia lain, lingkungan yang lain. Bisa mendapati dengan mudah rimbunnya hutan Kalimantan, riangnya kicau burung, udara segar, dan lain-lain. Sebuah anugerah yang sulit saya dapat jika saya tinggal di Jakarta, bukan?
Masyarakatnya?
Alhamdulillah, semua yang saya temui baik. Walaupun mungkin ada, tapi saya bersyukur sekali karena dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Mereka
welcome. Apalagi bagi mereka yang belum pernah ke tanah Jawa, rasa ingin tahunya sangat tinggi. Solidaritasnya tinggi dan suka menolong. Tentu, ini tidak lain dan tidak bukan karena nasihat pamanda, 'Pandai-pandailah membawa diri'.
Soal dukun?? Ah, itu cuma kabar burung… (LOL)
Kalaupun ada, saya tidak menemukannya.
Foto: Dari dokumen pribadi