
Awalnya saya turut senang sekaligus bangga dengan berita Menara Jam Mekah menyaingi Greenwich Mean Time (GMT). Selain menjadi kebanggaan tersendiri karena Menara Jam Mekkah berhasil mengalahkan GMT, berdirinya Jam Mekah juga bertujuan menggantikan Observatorium Greenwich sebagai "pusat sejati dari bumi".
Bahkan Yusuf al-Qaradawi mengatakan, "Mekah lebih cocok menjadi meridian utama karena keselarasan yang sempurna dengan medan magnetis utara." '
Hmmmm.. Betul juga.
Sekilas tentang Menara Jam Mekkah.
Jam Mekah berada di atas Mekah Royal Clock Tower. Sebuah komplekz megah milik pemerintah Arab Saud. Jam berbentuk empat wajah itu diterangi dua juta lampu LED dengan tulisan arab 'Dalam Nama Allah'.
Jam megah tersebut berjalan menurut standar waktu Arab Saudi, yang tiga jam di depan GMT. Dengan didirikannya bangunan setinggi sekitar 2.000 kaki ini, Jam Mekah menjadi gedung tertinggi kedua di dunia.
Jawabnya: Karena kesederhanaan yang pelan tapi pasti telah menghilang di Mekah, Tanah Suci umat Islam.
Semua berawal dari catatan Resonansi di rubrik Koran Republika tanggal 13 Mei 2011 ini:
Teman itu baru pulang dari umrah. Tapi, ekspresinya langsung berubah saat ditanya bagaimana suasana Makkah sekarang? “Saya sedih sekali. Istri saya lebih sedih lagi,“ katanya. Mimik mukanya tampak menjadi lebih serius.
Yang membuatnya sedih adalah jam. `Jam Gadang', begitu biasa diselorohkan.
Di hadapan Masjid al-Haram, kini tegak berdiri sebuah jam besar. Jam terbesar di dunia. Lebih dari Big Ben, London. Apalagi bila dibanding jam gadang di depan pasar Bukittinggi. Jam ini benarbenar besar. Benar-benar `gadang'. Berada hampir di puncak bangunan yang kini termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.
Dalam rancangan, Makkah diharapkan jadi pusat waktu dunia. Ada keinginan agar Makkah dapat menggantikan peran Greenwich. Untuk itu perlu simbol. Yang paling tepat, simbolnya adalah jam. Tepatnya jam terbesar di dunia. Maka, diwujudkanlah `jam gadang' itu. Jam terbesar di dunia sudah ada di jantung Makkah.
Semestinya ia gembira. Banyak orang bangga melihat `jam gadang'. Tapi, dia tidak. Bukan karena jam gadang di dekat kampung halamannya, Bukittinggi, tersaingi. Tapi, karena Makkah sudah begitu berbeda. Berbeda dengan beberapa tahun lampau saat ia mengunjunginya. Berbeda dengan keadaan semestinya yang ia bayangkan.
Ia besar dari lingkungan keluarga dengan latar keagamaan yang kental.
Ayahnya ulama besar. Ia lama bekerja di perusahaan multinasional. Juga sempat tinggal di Amerika. Ia paham apa yang disebut `modern'. Juga bagaimana keagamaan mampu mangakomodasi kemodernan. Jam Makkah, menurutnya, bukan seperti itu. Jam Makkah itu, dalam pandangannya, `norak'. Produk orang kaya yang sama sekali tidak terpelajar.
Selama ribuan tahun, ikon Makkah adalah Ka'bah. Simbol kesederhanaan yang luar biasa. Sukses atau bahagia sejati akan tercapai bila manusia mampu menyederhanakan diri. Berhenti mengagungkan segala macam Tuhan dengan bertaut hanya pada Allah Yang Maha Esa.
Lepaskan segala atribut. Jadilah diri sendiri yang sejati. Maka, umrah dan haji mengharuskan semua untuk cuma mengenakan kain ihram. Seorang yang wafat juga cuma perlu dililit kain kafan.
Tidak lebih.
Sederhana adalah karakter Islam. Nabi Muhammad bisa bermewah-mewah lewat kekuasaannya. Namun, beliau memilih hidup sederhana sampai akhir hayat.
Para sahabatnya, Abubakar dan Usman, sangat kaya. Tapi, hidupnya sederhana saja. Umar pun melemparkan pasir ke pasukannya.
Mereka baru menaklukkan Yerusalem. Mereka memakai seragam tempur mewah seperti tentara musuh, buat `menjaga martabat'. Umar sangat terganggu oleh kemewahan mereka.
Setiap orang memang harus meningkatkan kualitas hidup. Setiap orang dituntut meningkatkan kualitas diri. Termasuk dalam urusan materi. Tetapi, tidak berarti Islam mendorong hidup bermegah-megah. Sebaliknya malah melarangnya. Setiap orang harus menjaga kesederhanaannya sendiri di level masing-masing. Itu yang membuat Islam berbeda. Itu yang membuat Makkah berbeda dengan Vatikan.
Dan kini, Makkah pun meninggalkan kesederhanaannya mengadopsi gaya megah Vatikan.
Kemewahan dan kemegahan memang realitas yang tak terhindarkan. Termasuk di Makkah yang semestinya jantung kesederhanaan. Ka'bah dan Masjidil Haram dianggap belum mencukupi menjadi ikon kota itu. Lalu, disandingkanlah dengan jam gadang. Ini mungkin merupakan pertanda akhir zaman. Tinggal bagaimana kita belajar dari pertanda itu.
Bersikap sederhana akan menjaga untuk selalu terikat pada nilai-nilai hakiki.
Sederhana akan menjaga diri dari jalan menyimpang. Itu yang perlu kita perhatikan semua. Terutama bagi yang tengah diuji dengan `kesuksesan'. Bagi seorang Mohammad Nazaruddin, misalnya. Politisi yang namanya kini dikait-kaitkan dengan skandal suap. Juga bagi para tokoh elite politik lain yang kaya raya dengan semakin berkuasa. Mudah-mudahan ia teringatkan telah menyandang nama Mohammad: Tokoh sederhana sepanjang masa.
Sederhana adalah hal biasa yang sangat berharga. Semestinya kita menjaganya. Apalagi kemegahan semakin tak mau berhenti buat merebut perhatian.
Setidaknya itu yang diingatkan kawan itu.
Ia yang baru pulang dari bersungkur di hadapan Ilahi di Tanah Suci.
*Sebuah catatan telat.
bener Thie....
ReplyDeleteironis memang.
artinya, kiamat sudah SANGAT SANGAT dekat yaaa
jam itu memang megah... saya ke mekah maret kemarin... sungguh2 menakjubkan
ReplyDelete