Balada Ibu Bekerja
Yup! Sudah lebih dari satu bulan saya jadi working mom. Gimana rasanya? Campur aduk!
Pertama, merasa bersalah karena meninggalkan Cenna seharian. Kalau boleh memilih, lebih baik saya di rumah mengurus Cenna daripada harus meninggalkannya selama 12 jam. Hitung saja, 12 jam saya di luar rumah. Pulang kerja sudah capek. Baru main sebentar, Cenna sudah mulai ngantuk dan akhirnya minta dininaboboin. Selesai. Kebersamaan kami hanya beberapa jam, sisanya dihabiskan untuk tidur. Kecuali dia terbangun malam-malam dan ngoceh.
Kedua, dorongan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang. Jelaslah kiranya kenapa akhirnya saya harus kembali bekerja. Meski entah sampai kapan. Karena saya ingin memiliki tabungan lebih yang kelak bisa digunakan untuk biaya sekolah Cenna, juga biaya-biaya lainnya.
Dua-duanya tentu saja muaranya untuk Cenna, untuk anak. Mau tinggal di rumah, mau kerja, semuanya pasti demi anak. Tapi, dua-duanya tetap punya konsekuensi masing-masing.
Harapannya sih, nggak lama lagi saya bisa kerja dari rumah. Jadi bisa sekalian mengurus Cenna. Aaamiiiin!
ASI dan Bingung Puting
Ada sebagian teman yang bertanya, kalau kerja, lalu ASInya gimana?
Hmmm.. Pertanyaan yang wajar. Karena memang sangat tidak memungkinkan membawa bayi ke kantor. Jadi solusinya, ASInya diperah. Oleh-oleh setiap hari ya ASI perah alias ASIP. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak bisa dibilang sedikit. Alhamdulillah, masih bisa membawa pulang 350-400 ml sehari.
Apalagi Cenna sedang terkena bingung puting (nursing strike). Suatu kondisi di mana si kecil lebih senang minum ASI dari dot ketimbang menyusu langsung dari sumbernya (ibu).
Sudah satu bulan lebih Cenna bingung puting. Dia mengamuk tiap kali dipangku dan disusuin. Kalaupun mau, cuma digigit. Benar-benar menolak untuk disusuin.
Sedih? Jelasss...
Sangat-sangat menyesal mengenalkan dot pada Cenna. Iri, kesal, cemburu, campur aduk tiap kali melihat Cenna minum ASIP dari dot. Rasanya ingin membuang semua dot yang ada di rumah. Tapi, bude yang jagain Cenna lebih nyaman ngasih ASIP pakai dot. Pun halnya dengan Cenna.
Berhenti berusaha? Tidak.
Saya mencoba relaktasi dengan skin to skin contact. Gagal. Cenna nangis kejer.
Relaktasi menggunakan lactation Aid. Gagal.
Pakai cup feeder, juga gagal. Karena banyak ASIP yang terbuang dan Cenna tersedak.
Pakai spout, sedotan, dot orthodontic, dot peristaltik, sendok, semuanya gagal. Memang Cenna bisa, tapi bude yang momong Cenna nggak tega. Jadi balik lagi ke dot standar.
Akhirnya, menyerahlah saya. Berusaha untuk ikhlas. Mungkin perjalanan menyusui Cenna memang harus begini.
Sekarang, satu-satunya cara untuk bisa kembali menyusi hanya dengan skin to skin contact. Hasilnya? Kadang berhasil, kadang nggak.
Nah, karena Cenna nggak mau minum ASI dari sumbernya, jadilah saya perah ASI setiap hari. Dari pagi sampai pagi lagi. Semuanya terjadwal.
Pagi:
Jam 04.00, 06.00, dan 09.00.
Siang:
Jam 12.00, 14.00, dan 16.00
Malam:
Jam 19.00, 21.00, 23.00, 01.00, dan 04.00
Begitu terus setiap hari. Jadwal ini berlaku untuk hari Senin - Jumat. Hari Sabtu dan Minggu jadwal perah ASI lebih banyak lagi.
Kadang ada kalanya jadwal pumping (perah ASI) di malam hari tidak dipatuhi. Ada kalanya malah bisa hampir tiap jam. Yang penting tidak lebih dari tiga jam.
Alhamdulillah, dengan perah ASI begini, Cenna bisa minum ASI lebih banyak, antara 700-800 ml per hari. Sedangkan susu formulanya 'cuma' 100-150 ml per hari. Hari Sabtu dan Minggu Cenna bisa full ASI.
Sekarang targetnya, gimana caranya supaya Cenna bisa ful ASI setiap hari dan gimana supaya Cenna mau menyusu langsung lagi...
Kalaupun tidak bisa, semoga produksi ASI saya tetap banyak. Jadi tetap bisa memerah ASI.. Aamiiin :)
*foto dari koleksi pribadi.
Labels:
ASI,
ASIP,
bingung puting
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

semangaaaaaat! :D
ReplyDeletewah, jd membayangkan kalo nanti udah punya anak. soalnya otomatis jd wormom jg nih bakal.
ReplyDeletesalam kenal mbak :)