Mengharap Listrik dari TPA Sumur Batu

Akhir bulan kemarin, saya berkesempatan mengikuti pesta akbar narablog yang bertajuk Amprokan Blogger. Di bawah kepanitian dari komunitas Blogger Bekasi (BeBlog), acara ini berjalan sukses. Meski saya hanya mengikuti acara selama satu hari, saya berani simpulkan bahwa acara ini memang sukses. Sukses dalam arti, hanya hal kecil yang luput dari panitia. Dan itu jumlahnya sangat sedikit. Bahkan mungkin cuma saya yang merasakannya.

Keseluruhan acara ini digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu. Panitia tidak mewajibkan semua peserta untuk hadir di dua hari tersebut. Itu sebabnya, saya bisa pulang pada hari pertama karena kondisi yang kurang fit.

Acara yang saya ikuti di hari pertama lebih banyak diisi dengan kunjungan ke beberapa tempat ‘khusus’ di Kota Bekasi, seperti Tugu Patriot, Bantar Gebang, industri pembuatan boneka, President University, dan beberapa tempat lainnya. Dari beberapa lokasi yang dikunjungi, saya excited sekali dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Well, sebenarnya yang dikunjungi adalah TPA Sumur Batu yang merupakan bagian dari TPA Bantar Gebang. Nama TPA Sumur Batu memang seolah tenggelam dengan ‘kebesaran’ Bantar Gebang.

TPA Bantar Gebang sendiri bagi saya cukup fenomenal karena teramat sering nongol di layar kaca dengan berita yang lebih sering membuat kita miris. Saya penasaran. Sama penasarannya dengan keinginan saya melihat luapan Lumpur Lapindo!

Dan ternyata, seperti yang terpampang jelas di layar televisi, di Bantar Gebang ini terdapat permukiman kumuh yang dihuni para pemulung sampah. Miris sekali melihat keadaaan mereka. Hidup di antara tumpukan sampah dengan bau busuk yang menyengat. Tanpa listrik, tempat tinggal yang tidak layak, dan tidak sehat.

Saya sempat tertegun, ketika menyaksikan bapak-bapak yang sedang memilah botol plastic tersenyum ke arah bus kami yang melintas di depannya. Senyum tulus, seolah berkata, ‘Hey I live here and Im happy!”

Subhanallah, dalam keadaan yang menurut saya pribadi ‘miris’ bapak tadi masih bisa tersenyum. Jadi teringat diri sendiri yang terlalu banyak mengeluh..

Kembali ke soal sampah. TPA Sumur Batu menjadi tempat pembuangan sampah khusus daerah Bekasi. Di TPA ini sampah yang menumpuk hingga 20 meter dan mengeluarkan gas metan, dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS). Saya kurang tahu, apakah  daya listrik yang dimiliki pembangkit ini sudah dinikmati warga sekitar atau belum.

See? Ternyata sampah yang menggunung bisa dimanfaatkan sebagai tenaga listrik. Akan lebih baik lagi, seandainya dari warga sudah ada pemilahan sampah organik dan anorganik. Apalagi Pemkab Bekasi sudah menyediakan tong sampah khusus untuk pemilahan sampah organik dan anorganik.

Yah, semoga progam ini bisa berkelanjutan. Dan semoga isu miring tentang mafia sampah hanya isu yang akan menjadi 'informasi sampah'.

Ah iya baru ingat, ini posting terlambat.

3 comments:

  1. suksesnya amprokan blogger itu seperti gelombang laut. hehe, semakin banyak yang membicarakannya. padahal acaranya sudah lama berlangsung.

    ReplyDelete
  2. soal listrik itu, kata bapak2 disitu sih masih sebatas penggunaan pribadi (maksutnya masih sebatas untuk pabrik disitu saja), belum digunakan sama masyarakat di sana, kerna dayanya yg masih terbatas. janjinya siy kalo daya yg dihasilkan sudah lebih besar, bisa digunakan juga sama warga di sana..

    ReplyDelete

 
Cerita Kita Blog Design by Ipietoon