Sejak Dini Merayakan Keragaman Setiap Hari





"I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character."
- Rev. Martin Luther King, Jr.





Seperti halnya cinta, membahas keragaman seolah tak pernah lekang dimakan zaman. Selalu ada hal menarik yang penting dan juga perlu untuk dibahas. Apalagi belakangan ini marak terjadi kekerasan di tengah masyarakat yang bermula dari intoleransi dalam menghadapi kemajemukan budaya, agama, dan ras. Nilai-nilai untuk saling menghormati dan toleransi seolah kian mengikis.
Padahal, jika saja kita mau jujur, bangsa ini lahir dari keragaman. Tumbuh dan besar juga dari keragaman. Perbedaan demi perbedaan yang memperkaya khazanah budaya bangsa.

Perlu diluruskan, bahwa keragaman bukan melulu tentang budaya, tentang agama, tentang paham politik, tentang suku dan ras, dan tentang asal kita.
Keragaman juga tentang manusia sebagai pribadi yang memiliki identitas dan keunikan.
Karenanya, keragaman seharusnya ditanamkan oleh orang tua sejak dini pada anak-anaknya. Sebab, pada masa perkembangan inilah orang tua akan menjadi model atau contoh bagi si anak.
Pada usia dini juga sangat penting untuk membuat persepsi bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik dengan potensi yang luar biasa. Baik anak yang berkulit putih atau hitam, kaya atau miskin, terlahir normal atau cacat fisik, berbeda agama, ras, suku, atau benua, semuanya adalah pribadi yang unik.
Membangun dan mempertahankan identitas diri yang sehat inilah proses belajar seumur hidup (long life education) untuk bergaul dengan manusia yang berbeda-beda.
Output dari proses ini, selain anak-anak akan menjadi pribadi yang percaya diri, mereka juga akan memahami satu hal: tidak ada yang derajatnya lebih tinggi, ataupun lebih rendah. Semuanya adalah sama.

Orang tua juga harus memberi informasi yang akurat tentang kebudayaan sendiri dan kebudayaan lain yang berbeda. Menanamkan pemahaman, bahwa kefanatikan dan intoleransi hanya akan menimbulkan perpecahan.
Di sini, nilai utama yang harus dipahami anak-anak adalah saling menghormati, toleransi, dan tidak menyakiti orang lain, baik dengan kata-kata, sikap, maupun tindakan.
Ajarkan pada mereka untuk memperlakukan orang lain dengan cara terbaik dan menghormatinya, tidak menghakimi orang lain, dan hindari munculnya steorotip, meski dalam hal-hal yang positif sekalipun. Contohnya, etnis A sebagian besar bagus dalam memainkan alat musik atau memiliki bakat menggambar.

Dengan mengajari anak-anak untuk mencintai keragaman dan memberi pemahaman nilai-nilai sosial dalam menghadapi perbedaan di berbagai hal, akan mengantarkan mereka menjadi manusia dewasa yang toleran dan saling menghormati. Menjadi manusia dewasa yang bisa merayakan keragaman setiap hari, bukan hanya satu tahun sekali.
Dan bukan tidak mungkin, karakter ini akan ditularkan pula pada anak mereka kelak.

Selamat merayakan keragaman setiap hari, semuanyaaa..! :)

Jadi teringat lagu One - U2.




*Tulisan ini untuk diikutsertakan dalam Writing Contest PB 2010.
**Picture taken from: picture-book.com.

4 comments:

  1. haloo..salam berkunjung..

    yaa.sebenanrnya apapun yang akan kita apresiasikan kepada dunia semua berasal dari fondasi awal-keluarga..
    namun miris yaa melihat kenyataan bahwa keluargalah yg justru mengajari kita untuk menolak perbedaan..kita gak boleh bergaul dengan orang ini,itu,suku ini itu,dan lain2

    ReplyDelete
  2. semoga sukses ya lombanya. bener juga ya harus ditanamkan bahawa kebergaman itu indah

    ReplyDelete
  3. tak perlu jauh-jauh untuk mencari keberagaman.
    dengan orang disamping kamu aja sudah bisa disebut beragam karena tak ada manusia yang diciptakan sama :)

    ReplyDelete

 
Cerita Kita Blog Design by Ipietoon