
Akhirnya sampai juga di tahun 2012. Tahun yang sering dijadikan lelucon karena identik dengan julukan tahun datangnya ‘kiamat’. Bahkan ada filmnya segala. Lucu memang. Meski rumor ini begitu booming, bukan berarti kita kehilangan harapan di tahun 2012. Apalagi jika sampai mempercayainya. Tentu saja, berharap saja tidak cukup. Harus ada usaha keras untuk mewujudkannya. Salah satu cara agar usaha dan harapan di tahun 2012 tercapai adalah dengan membuat perencanaan matang, yakni dengan membuat resolusi. Ya, resolusi apa saja yang ingin dicapai pada tahun 2012 dan bagaimana kita akan mewujudkannya?
Resolusi saya di tahun 2012 yang paling utama selain memiliki usaha rumahan adalah melakukan aksi sosial. Berupa apa? Dengan mengumpulkan 1000 clothdiaper baru maupun bekas dan mendonasikannya ke sejumlah panti asuhan yang banyak menampung bayi dari 0 bulan sampai 3 tahun. Clothdiaper ini nantinya diberikan ke pengasuh panti asuhan agar dikenakan pada bayi yang ada di panti tersebut.
Tujuannya? Agar meringankan pekerjaan para pengasuh panti asuhan dan meringankan pengeluaran mereka. Harus diakui, di jaman serba modern ini penggunaan popok sekali pakai (pospak) sudah seperti pakaian wajib bagi bayi. Selain nyaman dipakai, diaper juga meringankan kerja para pengasuh panti karena tidak harus mengganti popok setiap kali si bayi pipis. Tapi, belakangan diketahui, pospak sering menimbulkan ruam popok dan merusak lingkungan karena kandungan bahan kimia di dalamnya. Saya membayangkan, jika ada 1000 bayi di Indonesia yang memakai pospak, dengan asumsi sehari menghabiskan empat pospak, berapa banyak sampah pospak yang terbuang? 4000! Itu hanya sehari. Bisa dibayangkan jika sampah pospak dalam waktu sebulan bahkan setahun? Belum lagi penguraian sampah pospak membutuhkan waktu yang sangat lama.
Itu baru bahaya lingkungan akibat penumpukan sampah pospak. Bagaimana dengan biaya yang dikeluarkan setiap ibu rumah tangga yang mengenakan pospak pada anaknya? Setelah dihitung-hitung, dalam satu tahun, biaya yang diperlukan untuk membeli pospak lebih dari Rp3 juta. Dikalikan lagi dengan dua atau tiga tahun masa penggunaan pospak, tentu luar biasa besar. Padahal biaya ini bisa dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.
Bahaya lingkungan dan pengeluaran besar akibat pospak, tidak berlaku jika kita menggunakan clothdiaper. Selain ramah lingkungan karena bisa dicuci ulang, clothdiaper juga ‘ramah’ pada dompet. Karena satu clothdiaper bisa dipakai hingga usia tiga tahun, bahkan bisa diwariskan pada adik si kecil kelak.
Karena kegelisahan ini, kemudian saya bermimpi dan membuat resolusi: melakukan Gerakan 1000 Clodi (clothdiaper) untuk 100 Bayi di panti asuhan. Asumsinya, setiap bayi membutuhkan 10 clodi untuk dipakai bergantian dalam keseharian. Dan saya kira, panti asuhan lebih representatif untuk diberi bantuan lebih dulu. Kalau gerakan ini berhasil, aksi berikutnya adalah memberikan donasi clodi pada ibu rumah tangga yang pendapatannya di bawah rata-rata.
Hmmm... Benar-benar mimpi yang dijadikan resolusi. Apakah saya akan dapat mewujudkan resolusi ini? Tentu saja bisa. Kenapa tidak?
Sekarang ini, internet sudah menjadi sebuah kebutuhan. Ada banyak gerakan positif yang bermula dari dunia maya dan berhasil diaplikasikan di dunia nyata. Pun halnya dengan Gerakan 1000 Clodi untuk 100 Bayi. Kampanye gerakan ini bisa dilakukan melalui social media yang sedang tren saat ini, yakni Twitter dan Facebook. Tidak hanya itu, kampanye juga bisa dilakukan melalui blog. Dari blog kemudian disebarluaskan dengan melakukan blogwalking. Semakin banyak blog walking, semakin banyak orang yang tahu dan akan semakin banyak pula donasi yang masuk. Harapannya, blogger juga berpartisipasi dengan gerakan ini.
Langkah berikutnya, tentu saja menggaet seleb twit dan seleb blog untuk ikut turut serta menyebarluaskan gerakan ini. Selain itu, aksi juga bisa dilakukan dengan menyebarluaskan info gerakan ini di berbagai milis parenting dan lingkungan.
Saya sangat optimistis langkah-langkah ini akan mewujudkan apa yang menjadi impian saya, yakni mengurangi tumpukan sampah pospak sedikit demi sedikit serta membantu bayi panti asuhan untuk mengenakan clodi.
Di luar negeri, sudah banyak yayasan atau foundation yang dibentuk khusus untuk menerima dan mengumpulkan donasi berupa clodi baru maupun bekas, dan juga donasi berupa uang kemudian dibelanjakan untuk membeli clodi. Penerima clodi bisa melakukan pendaftaran langsung (submit) di website mereka dengan mengisi biodata lengkap, jumlah anak, dan lampiran berupa kartu keluarga dan slip gaji. Dengan catatan, pendapatan mereka di bawah rata-rata (low income). Ibu yang masih hamil pun bisa mendaftar jika memang pendapatan keluarganya minim. Syaratnya, harus melampirkan surat dari dokter tentang hari perkiraan lahir dan anak yang dikandung.
Tidak hanya memberi donasi clodi. Di luar negeri juga ada lembaga khusus yang meminjami clodi secara gratis bagi keluarga yang pendapatannya rendah. Metodenya, keluarga yang dipinjami harus menjaga dan merawat clodi pinjaman sampai batas waktu pemakaian pada si kecil selesai. Begitu selesai, clodi di kembalikan lagi untuk dipinjamkan pada keluarga dengan low income lainnya. Begitu terus menurus siklusnya. Yayasan yang meminjami juga melakukan monitoring ke keluarga yang dipinjami secara berkala, hanya untuk memastikan bahwa keluarga tersebut masih menggunakan clodi dan semuanya dalam keadaan baik.
Yayasan-yayasan ini masih berdiri dan terus menerima donasi melalui website mereka, kemudian mendistribusikannya pada keluarga miskin di negaranya masing-masing.
Di Indonesia, saya belum melihat adanya langkah tersebut. Padahal gerakan kecil ini memiliki kontribusi besar untuk pengurangan sampah pospak di Indonesia. Jika bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi? Untuk itu, saya bermimpi bisa menjadi voluntir gerakan ini. Kalau mereka yang di luar negeri saja bisa, kenapa kita tidak?
Semoga gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan melalui internet. Dan yang terpenting dari Telkomspeedy..
Ah, iya, tentu saja masih banyak resolusi pribadi saya yang ingin dicapai di tahun 2012 ini, antara lain menjadi ibu rumah tangga yang menjalankan usaha dari rumah. Dan lagi-lagi, usaha ini membutuhkan dukungan internet untuk marketingnya. Betapa internet sudah menjadi kebutuhan wajib untuk semua orang.
Dija udah belajar gak pake popok nih...
ReplyDeletehiks, telat ya
Yang penting udah gak pake popok mbaaakk :D
DeleteSaya gak pernah kepikiran gerakan ini Mbak'e...
ReplyDeleteSemoga sukses dengan resolusinya :)
Aaamiiinn..
DeleteMakasih Mbak Anaz.
Kalau ada teman yang mau ikutan bantu, boleh lho diinfokan ke saya ^_^