Assalamu’alaikum rumah mayakuuuu….
Huhu.. Lama sekali saya nggak update apapun di sini. Kesibukan yang memenjara kreativitas, juga sarana yang nggak bisa lagi saya nikmati dengan gratis turut mempengaruhi minat saya untuk memasuki ‘rumah’ ini.
Iya, saya cuma sesekali menengok ‘rumah’ ini. Cuma menengok, tanpa berbenah. Ah, jangankan berbenah, sekedar mengisi saja rasanya berat sekali bagi saya.
Tuuh kaaan… Saya malah nulis alasan-alasan thok!
Oke, anggap saja nggak pernah baca 'prelude' di atas. Itu cuma buat mereka yang suka beralasan. Termasuk saya tentunya. Seribu alasan dikemukakan. Padahal intinya cuma satu: malas.
Dan sudah seharusnya penyakit ini nggak boleh menghinggap terlalu lama di jiwa saya!
*mengusir si malas*
.
.
.
Jadi ceritanya, sekarang saya sedang kangen. Kangen sama odong-odong (baca:kopaja). Satu bulan saya setia naik odong-odong. Sebenarnya bukan setia. Ini karena di tempat kerja saya, nggak ada angkutan lain lagi selain si odong-odong. Ada sih TransJakarta, tapi harus muter jauuuuuhh. Dan itu jelas nggak efektif buat saya.
Jadilah saya setiap hari naik odong-odong. Berebut tempat duduk dengan penumpang lain. Terkadang sampai berebut tempat berpijak di odong-odong karena saking penuhnya.
Fyuuhhh... betapa rakusnya supir odong-odong. Anehnya, masih ada saja yang mau naik. Berjubel di pintu masuk. Berkeringat, berhimpitan, dan ber-ber lain yang sudah pasti nggak enak!
Hei..! Itu belum termasuk kebiasaan jelek odong-odong pas malam hari. Ini yang paling saya nggak suka. Penumpang odong-odong seringkali dialihkan ke odong-odong yang lain. Dan parahnya, pengalihan penumpang ini nggak melihat tempat. Pernah satu kali saya mendapati penumpang odong-odong yang 'mencuri' jalur Busway dialihkan ke odong-odong yang saya tumpangi! Edan!
Tapi mau bagaimana lagi? Begitulah potret angkutan rakyat di negeri tercinta kita ini.
*sebenarnya kalau berbicara soal odong-odong, pasti berkaitan dengan TransJakata. Next time lah saya bahas*
.
.
Satu bulan berjibaku dengan odong-odong, akhirnya saya menyerah. Saya memilih kos di dekat kantor dan meninggalkan odong-odong.
Meski banyak sisi negatifnya, ternyata saya kangen juga dengan odong-odong. Kangen menjadi pengamat penumpangnya! Haha… Nggak keren banget, PENGAMAT PENUMPANG!
Mau jadi pengamat politik, sudah banyak. Pengamat ekonomi, lebih banyak lagi.
*posting nggak penting setelah sekian lama*
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment