Malam takbiran tahun lalu seharusnya menjadi malam yang penuh kebahagiaan bagi kami sekeluarga. Pun halnya dengan Epul. Betapa tidak, kami sekeluarga sudah berkumpul di malam takbiran. Memasak dan membuat kue. Menyiapkan ini dan itu. Dan seperti biasa, Epul yang saat itu berusia 21 tahun, berangkat ke masjid untuk salat Isya.
Namun, tidak seperti biasanya, Epul menangis sepulang dari masjid. Air matanya bercucuran. Kami sekeluarga bingung dan bertanya pada Epul, 'ada apa?'.
Epul menjawab, sepulang dari masjid, sekelompok anak meledeknya dan mengatakan, Epul jelek karena tidak bisa bicara. Bahkan ada satu anak usia SMP yang memukulnya!
Cerita Epul ini disampaikannya dengan bahasa isyarat. Hanya kami sekeluarga dan orang terdekat yang mengerti apa maksud isyarat yang dia sampaikan.
Epul adalah adik kami yang sejak lahir memiliki disabilitas untuk bicara maupun mendengar. Bahkan hingga tahun keempat, pertumbuhannya teramat lambat. Terutama untuk duduk, berdiri, kemudian berjalan. Usia satu tahun, dia berjalan menggunakan punggungnya, bukan dengan 'ngesot'. Baru di usia tiga tahun dia bisa duduk dan bisa mengesot.
Umur empat tahun, ketika hampir semua orang tidak menyangka Epul akan bisa berjalan, Allah menunjukkan kebesaranNYA.
Sore itu, anak-anak kecil bermain di halaman rumah. Kebetulan ada ibu-ibu yang sedang mencari daun pisang. Batang daun pisang yang dibuang, dimanfaatkan anak-anak untuk bermain 'jaranan'. Ajaibnya, Epul yang saat itu baru bisa duduk dan ngesot, langsung berdiri dan mengambil batang pisang kemudian berlari. Meski hanya beberapa langkah. Karena dia sudah keburu terjatuh.
Sejak saat itu, kami terapi Epul hingga akhirnya dia bisa berjalan dan berlari normal. Bahkan bisa bermain sepeda.
Meski demikian, keadaan ini tidak serta merta mengubur niat orang lain untuk meledek atau melakukan tindakan bullying. Seperti yang terjadi pada malam takbiran tahun lalu itu. Miris hati kami mendengar cerita Epul mendapat perlakuan buruk sedemikian rupa. Dengan bahasa isyarat, Epul bertanya pada ibu, 'kenapa saya tidak bisa bicara?'
'Kenapa Allah tidak memberikan saya kemampuan untuk bicara? Atau jangan-jangan sewaktu ibu hamil saya, ibu melakukan kesalahan?'
Pertanyaan-pertanyaan ini disampaikan Epul dengan bahasa isyarat. Susah payah kami menjelaskan pada Epul bahwa disabilitas yang dia alami adalah kehendak Tuhan. Bahwa anak-anak yang sudah meledeknya akan menerima balasan juga nantinya. Bahwa... :(
Perlakuan buruk ini tidak hanya dilakukan anak-anak, tetapi juga oleh orang dewasa. Mereka menjadikan Epul bulan-bulanan sebagai bahan candaan yang sama sekali tidak lucu. Tidak pernahkah mereka memahami bagaimana perasaan Epul diperlakukan sedemikian rupa? Apakah mereka tidak akan tersakiti jika mereka juga menerima perlakuan yang sama? Apakah mereka akan terima jika adik atau anggota keluarga mereka juga mendapat perlakuan yang sama?
Sedemikian buruk pandangan masyarakat terhadap para penyandang disabilitas. Mereka dikebiri. Dijadikan bahan olokan dan bahan candaan. :(
Disabilitas dan Lapangan Kerja
Jumlah warga Indonesia yang memiliki disabilitas menurut data Kementerian Kesehatan sebanyak 6,7 juta orang. Namun, yang terserap lapangan kerja baru setengah persen. Setengah persen!
Sangat tidak sebanding dengan jumlah penyandang disabilitas.
Padahal menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997, setiap instansi pemerintah atau perusahaan swasta diharapkan bisa memenuhi kuota 1 persen untuk penempatan tenaga kerja penyandang disabilitas. Hanya saja, tidak semua instansi bersedia memberi porsi lapangan kerja bagi para penyandang disabilitas ini.
Sangat disayangkan. Aturan baku yang seharusnya dipatuhi setiap instansi ternyata hanya menjadi ‘macan ompong’. Hanya tertera peraturan hitam di atas putih tanpa ada aplikasi di tengah masyarakat.
Inilah mungkin yang menyebabkan banyak penyandang disabilitas, baik dipaksa maupun atas kemauan sendiri mengais rejeki dengan cara meminta-minta.
Jika saja, penyerapan tenaga kerja dari para penyandang disabilitas ini lebih besar, tentu jumlah peminta-minta tidak akan sebanyak sekarang.
Jika saja, pemerintah bisa menyediakan wadah untuk membantu mereka yang memiliki disabilitas namun tidak mampu menempuh pendidikan. Jika saja, wadah tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengeksplorasi potensi dan kreativitas mereka, tentu mereka akan lebih produktif lagi.
Satu yang seharusnya dipahami para pemimpin negeri ini, bahwa mereka yang memiliki disabilitas tertentu, misalnya tidak dapat melihat, indera-indera yang lain bisa memerintah dan menstimulasi otak untuk memaksimalkan indera lainnya. Dan ini sudah terbukti.
Hellen Keller misalnya. Dia adalah salah satu penyandang disabilitas penglihatan, pendengaran dan berbicara, namun dia bisa menguasai berbagai bahasa dan lulus dari Universitas Harvard!
Disabilitas lainnya juga dimiliki Hirotada Ototake atau Oto yang sejak lahir tidak memiliki tangan dan kaki. Namun berkat semangatnya yang setebal baja, dia bisa lulus kuliah dan sekarang menjadi guru.
Keberhasilan para penyandang disabilitas ini tidak lepas dari semangat membara dan kesabaran luar biasa dari mereka untuk terus belajar. Pun halnya dengan keluarga, guru, dan lingkungan yang selalu setia mendukung mereka.
Penyandang Disabilitas dan Kartunet
Pernahkan kita membayangkan diri kita berada di posisi para penyandang disabilitas? Bagaimana kita bisa melakukan aktivitas sehari-hari sebagai seorang penyandang disabilitas? Bagaimana jika kita menjadi Hellen Keller? Atau menjadi seorang Oto?
Kartunet sebagai katalisator bagi para penyandang disabilitas sepatutnya memberi ruang seluas-luasnya bagi siapa saja yang menyandang disabilitas untuk ikut ambil bagian.
Artinya, Kartunet harus bisa mewadahi para penyandang disabilitas untuk berkreativitas dan mengembangkan potensinya. Misal, dalam hal keterampilan menjahit, membuat kerajinan tangan, bahkan di bidang IT.
Kartunet juga harus lebih menyebarluaskan informasi tentang keberadaannya, sebagai salah satu lembaga yang memiliki kepedulian tinggi terhadap penyandang disabilitas. Apalagi Kartunet digawangi juga oleh mereka yang juga memiliki disabilitas. Informasi ini akan memberi semangat tersendiri bagi penyandang disabilitas lainnya yang ingin bergabung dengan Kartunet.
Tidak hanya itu, melalui program-programnya, Kartunet diharapkan bisa mengedukasi masyarakat sampai ke pelosok desa. Karena tindakan bullying terhadap penyandang disabilitas juga banyak ditemui di desa-desa.
Menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat, tentu membutuhkan media. Untuk itu, Kartunet juga harus bisa menggaet media baik cetak maupun elektronik berperan serta menyebarluaskan informasi dan mengedukasi masyarakat.
Kartunet dan Dialogue in The Darkness
Sebagai salah satu lembaga yang dipercaya untuk memberdayakan para penyandang disabilitas, Kartunet juga bisa bekerja sama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Nasional untuk mendirikan sebuah lembaga khusus penyandang disabilitas penglihatan.
Seperti yang dilakukan pemerintah Jerman. Mereka mendirikan lembaga khusus untuk mereka yang ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang penyandang disabilitas penglihatan. Lembaga ini diberi nama Dialog im Dunkein atau Dialogue in The Darkness. Eksebisi ini diberikan khususnya bagi para siswa di Jerman. Namun, bagi orang umum yang ingin ikut dalam eksebisi ini juga dibolehkan.
Kegiatannya berupa tour dalam ruang gelap gulita. Setiap peserta menjalani peran sebagai penyandang disabilitas penglihatan dengan dibantu seorang guide yang tidak lain adalah penyandang disabilitas penglihatan. Mereka dibolehkan berdialog. Kegiatan para peserta berupa menyeberang jalan, bertransaksi di pasar, menaiki kapal, dan lain-lain. Semua kegiatan ini dilakukan dalam keadaan gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun.
Dengan mendirikan lembaga eksibisi ini, diharapkan mereka yang disebut sebagai manusia ‘normal’ bisa ikut merasakan hari-hari menjadi seorang penyandang disabilitas penglihatan. Harapannya, dengan merasakan ‘kegelapan’, masyarakat bisa memahami dan lebih peduli pada para penyandang disabilitas. Sehingga sirnalah tindakan bullying ataupun sikap semena-mena terhadap penyandang disabilitas di tengah masyarakat.
Sejatinya, tidak ada yang namanya manusia penyandang disabilitas, yang ada adalah manusia yang harus diperlukan secara manusiawi.
Disabilitas juga tidak melulu orang-orang yang secara fisik terlahir dengan disabilitas, tetapi juga mereka yang memiliki disabilitas akibat kecelakaan.
Dengan mengapresiasi, memberikan kesempatan kerja, serta mengeksplorasi potensi mereka, akan sangat berarti bagi mereka dan masa depan mereka.
Semoga, ada langkah pasti dari pemerintah bekerja sama dengan Kartunet untuk kebaikan dan masa depan para penyandang disabilitas.
Semoga!
NB:
Gambar pertama diambil dari website Kartunet.com
Gambar kedua diambil dari website http://tataandika.depsos.org
Gambar pertama diambil dari website Kartunet.com
Gambar kedua diambil dari website http://tataandika.depsos.org


i love you Pul....
ReplyDeletesalut smaa Epul
mereka memang harus mendapat perhatian yang lebih. kalo tidak dari kita, siapa lagi. pemerintah seperti abai dg keadaan mereka. ayooo semangati mereka
ReplyDeleteepul mempunyai semangat besar untuk belajar dan menjadi orang berhati besar. semoga epul tetap semangat dan diberikan kemudahan
ReplyDeletesemoga bisa saling membantu keberadaan mereka. insya Allah
ReplyDeleteHai, berkunjung dan salam kenal yaa :)
ReplyDeleteselamat gan, masuk urutan 50 teratas kontes kartunet.
ReplyDeletegood luck yah! :)
@Mba Elsa, tengs mbak :)
ReplyDelete@Rusydi Gunawan, sepakat pak..
@Mas Antown, aaamiiiinn...
@Shafira, iya mbak, mereka butuh perhatian kita :)
@Yankmira, hai mbak, salam kenal juga
@Ilhamsk, sama-sama gan, gudlak juga :)
Artikel yang sangat menyentuh.
ReplyDeletePadat isi juga.
Selamat ya mbak, artikel ini memang layak jadi jawara!
Congrats
Salam akselerasi
Selamat ya mbak, telah menjadi juara 1.
ReplyDelete