Akhir-akhir ini, saya merasa ada banyak limpahan kedermawanan dari orang sekitar yang lalai disyukuri.
Tetangga yang ramah dan ringan tangan. Teman eks-kantor yang senang berbagi. Atau saudara yang tidak lupa datang mengunjungi. Kendati berasal dari tempat yang jauh, tidak menyurutkan langkah kaki mereka untuk silaturahmi.
Kedermawanan yang melingkungi, tapi saya lalai untuk mensyukuri.
Terlihat sederhana ya? Tapi adakah yang lebih membahagiakan dari memiliki tetangga, teman, dan saudara yang baik?
Kedermawanan juga saya alami ketika sedang naik angkutan umum. Peristiwa berbulan-bulan lalu ini yang mengusik saya untuk menuliskannya di sini.
Di angkutan umum yang saya tumpangi, ada pengamen.
Seorang perempuan yang duduk di sebelah saya, tanpa berpikir lama langsung mengeluarkan uang pecahan. Sedangkan saya? Saya masih sibuk mencari uang pecahan yang lebih kecil! Padahal pecahan yang sama dengan yang dipegang perempuan sebelah saya juga tersedia.
Melihat perempuan itu, saya seperti ditampar! Malu pada diri sendiri.. Malu pada Allah yang Maha Pemurah.
Akhirnya saya mengeluarkan pecahan yang sama. Tentu saja setelah 'ditampar' oleh perempuan tadi.
Ya Allah..
Sampai di rumah, seolah tahu apa yang baru saja saya alami, tiba-tiba suami bertanya soal sedekah ketika kami makan malam. Saya menjawab apa adanya. Sejujur-jujurnya.
Dan meluncurlah nasehat yang membuat dada saya semakin sesak.
"Banyak-banyak sedekah ya, Dek. Biar berkah.."
Terima kasih, karena selalu dan selalu mengajakku dalam kebaikan. T_T
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment