Pernah nggak sih merasa berita yang berseliweran bikin kita tambah stres?
Buka Facebook, ada status tentang berita terkini dari teman-teman. Buka Twitter, ratusan kicauan dari akun portal berita bermunculan.
Berita lagi, berita lagi. Korupsi lagi, korupsi lagi. Belum lagi berita pelecehan, ketidakadilan, perampokan, pemerkosaan, kecelakaan, dan seterusnya.
Berita ini 'berterbangan' di sana sini seperti debu.
Ada yang aktual dan bisa dipercaya, ada juga yang bikin ragu dan penuh rekayasa.
BLUR!!!
Iya, kini semua berita terasa sulit untuk bisa langsung dipercaya. Menurut saya ya. Dulu, cukuplah satu koran sebagai rujukan. Sekarang? Ya koran, ya portal berita, ya televisi, tapi kok rasanya sulit sekali untuk mempercayainya.
Memang sih, tidak ada media yang independen dan bebas kepentingan. Apalagi jika kita tahu siapa orang dibalik media tersebut. Berita bernada tendensius akan mudah kita kenali.
Atau sebenarnya ada media yang bebas kepentingan? Kalau ada, saya mau diberi infonya. :)
Duh, posting saya jadi ngelantur begini.
Kembali ke soal berita dan stres yang melanda kita.
Gadget dan social media sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian orang. Meski ada juga yang ogah bermain social media.
Bagi kita yang sudah kecanduan dengan social media, sehari nggak update Twitter itu rasanya seperti ada yang kurang. Lebay ya?
Serbuan berita yang kita dapat dari social media, dari email, BBM, dll, kata dr Judith Orloff disebut techno-despair. Kalau sudah begini, jalan keluarnya sign out dari jejaring sosial dan menjauh dari gadget sejenak.
Seperti sekarang. Saya juga sedang dilanda techno-despair. Makanya saya posting di sini. Ngelantur ke sana sini.
Setelah ini, saya mau baca novel sambil menemani Cenna tidur. Dan tentu saja, mematikan hp lebih dulu untuk sementara waktu.
Bye..!
Gambar dari tnooz.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment