-Pagiiii... Semangaaatt! (funkydance)
-Maaf, terpaksa injek2 si Mark.. :(
-Jangan kau bohongi aku..
-Playlistnya dia cuma ada satu lagu atau gimana sih kok diputer2 mulu
-Ini mahasiswa UNM kok doyan banget tawuran sesama kampus sih? Gak ada kerjaan lain apa? gak malu apa?
-sanjungan yang memabukkan... :-P
Tulisan di atas adalah sedikit dari thread teman-teman di plurk. Nggak penting. Serius! Thread di Plurk seringkali memang sangat tidak penting. Walaupun pada hal-hal tertentu ada juga yang menulis thread serius.
Ada yang mengajak diskusi di Plurk, seperti yang dilakukan Mbak Med.
I miss you, Mbak.. (cozy)
Atau mengajak kita melihat fenomena sosial dari sudut pandang yang berbeda, out of the box. Ini yang sering dilakukan Pak Ikhlasul Amal. :D Ada juga yang memasang thread menye-menye, kebeles pipit sampai cemburu sama pasangan. Bahkan ada yang cuma memasang emoticon, kemudian diberondong dengan banyak komentar.
Tapi, terlepas dari ketidakseriusan thread, Plurk sudah memberi warna tersendiri bagi saya. Lewat Plurk, saya menemukan keluarga baru dari dunia maya, menemukan komunitas ibu-ibu PKK yang sebenarnya, menemukan sahabat baru,
contohnya om matahari, juga menemukan
mbah ini dan ini, juga
eyang xitalho. Lewat Plurk, saya bisa mengekspresikan kesedihan, frustasi, senang, bahkan sampai menggila! Mengekspresikan apa yang saya rasakan dalam kalimat yang pendek. Karena dibatasi sampai 160 karakter.
CMIIW.
Meski media sosial lain, seperti FB dan Twitter juga bisa jadi tempat berekspresi, tapi saya merasa jauh lebih nyaman dengan Plurk. (funkydance)
Seperti akronim dari Plurk sendiri, yakni
peace, love, unity, respect, and karma, Plurk memang memenuhi lima kriteria tersebut.
Walaupun bebas berekspresi, membuat Thread di Plurk juga tidak boleh bermuatan SARA. Kalau menulis kangen sama Sarah sih boleh saja. :P
Ketika memberi komentar atau respons pun, sebaiknya tidak asal. Apalagi kalau sampai alay. Bisa dikepruk atau bisa jadi diberondong oleh plurker yang lain.
Kalau ingin dihargai oleh plurker yang lain, kita juga harus respek pada orang lain.
Dan karma.
Kriteria yang membedakan Plurk dengan media sosial lainnya adalah karma. Berapa karma sodara sekarang? Tergantung dari rajin atau tidaknya sodara ngeplurk setiap harinya. (haha)
Berbicara tentang 'rajin ngeplurk' saya jadi merasa tersindir sendiri. Bagaimana pun, Plurk adalah media sosial. Bisa dijadikan tempat bermain, bisa jadi tempat diskusi. Tapi, saking asyiknya ngeplurk, seringkali waktu online saya terbuang untuk Plurk.
Ya, untuk kasus ini sih tergantung orangnya. Kebetulan saja saya sudah
addicted sekali dengan Plurk.
Apakah sodara juga sudah kecanduan Plurk seperti saya? (evil_grin)