Showing posts with label sahabat. Show all posts
Showing posts with label sahabat. Show all posts

Happy Six Month Birthday, Dija...


Namanya Khadijah Putri Nur Aini. Panggilannya Dija.
Dija ini lahir 23 Maret 2010.
Baru enam bulan! Dan Dija ingin merayakan enam bulan kelahirannya.
Hihi, ada-ada saja ya si kecil Dija?
Tapi, itu sah-sah saja dong, karena tantenya Dija, Mbak Elsa, ingin memberikan yang terbaik buat Dija.
Apalagi enam bulan bukan waktu yang singkat. Masih ingat donk waktu Dija baru lahir?
Beratnya cuma 1800gram. Sekarang mungkin beratnya sudah 7 atau 8 kg.
Bukan perubahan yang kecil, kan?

Dan sekarang, Dija sudah bisa ngapa-ngapain! Bisa tengkurep. Bisa main-main sama Tante Elsa. Bisa senyum-senyum kalau dengar suara lucu. Bisa menggapai mainan. Bisa nengok kalau ada yang memanggil. Dan bisa-bisa lainnya...setelah enam bulan tentunya! :D

Happy Six Month Birthday, Princess Dija.. Semoga jadi anak yang cerdas dan shalehah. ^_^




* Posting ini untuk ikut meramaikan Dija's 6 Months Giveaway!

Kebisuanmu

Dulu..
Kamu yang menggebu.
Mencari tahu.
Tapi kini, kamu menjauhiku dan berlalu.

Sempat ku tanyakan kabar, hanya senyap yang ku dapat.
Aku diamkan, kamu semakin hanyut dalam diam.

Semua seolah terputus.
Jaring komunikasi berteknologi tinggi pun seolah percuma.
Bagaimana bisa berkomunikasi jika jemarimu seolah tak kuasa menyentuh keyboard?
Bagaimana bisa berkomunikasi, jika handphone, satu-satunya benda yang selalu menempel di sakumu dibiarkan beku?
Gelisahmu, kebisuanmu, kegamanganmu seolah sepakat memusuhiku.

Jangan paksa aku untuk menebak-nebak apa maumu dengan berusaha memahami kebisuanmu.
Jangan pula memaksaku untuk mengerti arti perubahan sikapmu.
Aku tidak bisa melakukan itu.

Duhai kamu..
Pintuku terbuka lebar untukmu.
Tak peduli berapa pun banyaknya lukamu.

Percayalah…
Setiap masalah akan menemui jalannya sendiri..

**Ditulis untuk seorang sahabat dan kerabat*

Plurk! (Peace, love, unity, respect, and karma)

-Pagiiii... Semangaaatt! (funkydance)
-Maaf, terpaksa injek2 si Mark.. :(
-Jangan kau bohongi aku..
-Playlistnya dia cuma ada satu lagu atau gimana sih kok diputer2 mulu
-Ini mahasiswa UNM kok doyan banget tawuran sesama kampus sih? Gak ada kerjaan lain apa? gak malu apa?
-sanjungan yang memabukkan... :-P

Tulisan di atas adalah sedikit dari thread teman-teman di plurk. Nggak penting. Serius! Thread di Plurk seringkali memang sangat tidak penting. Walaupun pada hal-hal tertentu ada juga yang menulis thread serius.
Ada yang mengajak diskusi di Plurk, seperti yang dilakukan Mbak Med. I miss you, Mbak.. (cozy)
Atau mengajak kita melihat fenomena sosial dari sudut pandang yang berbeda, out of the box. Ini yang sering dilakukan Pak Ikhlasul Amal. :D Ada juga yang memasang thread menye-menye, kebeles pipit sampai cemburu sama pasangan. Bahkan ada yang cuma memasang emoticon, kemudian diberondong dengan banyak komentar.

Tapi, terlepas dari ketidakseriusan thread, Plurk sudah memberi warna tersendiri bagi saya. Lewat Plurk, saya menemukan keluarga baru dari dunia maya, menemukan komunitas ibu-ibu PKK yang sebenarnya, menemukan sahabat baru, contohnya om matahari, juga menemukan mbah ini dan ini, juga eyang xitalho.

Lewat Plurk, saya bisa mengekspresikan kesedihan, frustasi, senang, bahkan sampai menggila! Mengekspresikan apa yang saya rasakan dalam kalimat yang pendek. Karena dibatasi sampai 160 karakter. CMIIW.
Meski media sosial lain, seperti FB dan Twitter juga bisa jadi tempat berekspresi, tapi saya merasa jauh lebih nyaman dengan Plurk. (funkydance)

Seperti akronim dari Plurk sendiri, yakni peace, love, unity, respect, and karma, Plurk memang memenuhi lima kriteria tersebut.
Walaupun bebas berekspresi, membuat Thread di Plurk juga tidak boleh bermuatan SARA. Kalau menulis kangen sama Sarah sih boleh saja. :P
Ketika memberi komentar atau respons pun, sebaiknya tidak asal. Apalagi kalau sampai alay. Bisa dikepruk atau bisa jadi diberondong oleh plurker yang lain.
Kalau ingin dihargai oleh plurker yang lain, kita juga harus respek pada orang lain.
Dan karma.
Kriteria yang membedakan Plurk dengan media sosial lainnya adalah karma. Berapa karma sodara sekarang? Tergantung dari rajin atau tidaknya sodara ngeplurk setiap harinya. (haha)

Berbicara tentang 'rajin ngeplurk' saya jadi merasa tersindir sendiri. Bagaimana pun, Plurk adalah media sosial. Bisa dijadikan tempat bermain, bisa jadi tempat diskusi. Tapi, saking asyiknya ngeplurk, seringkali waktu online saya terbuang untuk Plurk.
Ya, untuk kasus ini sih tergantung orangnya. Kebetulan saja saya sudah addicted sekali dengan Plurk.
Apakah sodara juga sudah kecanduan Plurk seperti saya? (evil_grin)

Libur Panjang dan Kopdar di Surabaya

301220093068Wow! Liburan yang sangat-sangat menyenangkan! Dari 23 Desember 2009 sampai 3 Januari 2010. Sepuluh hari??? Dan sepanjang hari itu benar-benar cuma diisi dengan berlibur. Murni berlibur! Hahayyy... Hidup liburrr!

Rute liburannya, dari Jakarta ke Surabaya. Rute yang panjang! Untuk seseorang, saya haturkan terima kasih tak terbatas. Serius, ini liburan paling menyenangkan buatku.

Ini dia resume selama berlibur... *Btw, sepertinya ini nggak nyambung sama postingan sebelumnya deh*

Lumpur Lapindo, Wedoro, dan Lontong Balap
Hari ke dua liburan di Sidoarjo, saya yang penasaran dengan semburan lumpur lapindo tiba-tiba diajak jalan-jalan ke kawasan tersebut. Bekas permukiman penduduk dari delapan desa yang sekarang jadi lautan lumpur ini, semula cuma bisa saya lihat di televisi dan surat kabar. Ketika akhirnya saya bisa melihat langsung dan merasakan bau lumpur yang menyengat, tenggorokan saya seperti tercekat. Miris. Prihatin. Kesal dan sedih menyaksikan rumah penduduk lenyap tertimbun lumpur. Sayangnya, saya tidak berkesempatan mendatangi tempat pengungsian korban lumpur lapindo.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berkeliling di kampung yang khusus membuat sandal. Namanya Wedoro. Hampir di sepanjang jalan yang saya selusuri, setiap rumah menjajakan sandal beraneka model. Hohohoho...sekali lagi, sayangnya saya nggak beli! *pentung*

Lelah berkeliling (padahal karena nyasar), saya diajak ke warung sederhana yang menjual lontong balap. Yeah, rasanya memang mantap! Maknyuuusss! seperti kata Pak Bambang.
Tapi, dari semua perjalanan itu, yang paling menyenangkan adalah ketika saya bertemu dengan saudara-saudara baru. Fufufu.. Semoga saya berkesempatan bertemu dengan mereka lagi. Amiiin.

Masjid Cheng Ho, Zangrandi, dan Unair.
IMG_4075Next trip, saya kopdar dengan duo seleb blog, Mbak Elsa dan Mas Antown. Kali ini rutenya di seputar Surabaya. Kopdar ini juga sekaligus momentum bayar hutang, karena Mbak Elsa berjanji mau mentraktir saya  di Zangrandi. Tentang Zangrandi, monggo datang ke sini. Lengkap! Dijamin ngilerrr!
Nggak cuma itu, saya dan Mbak Elsa juga sudah berkomitmen (kyaaaa bahasaku!) untuk bikin posting tentang Masjid Cheng Ho di Surabaya dan klentengnya yang terletak di Kota Semarang. Awalnya, Mbak Elsa dapat tugas bikin posting tentang Masjid Cheng Ho karena tempat tinggal mbak imut ini di Jombang. Sedangkan saya bikin posting tentang klentengnya yang ada di Semarang.
Voila! Ternyata, saya dan Mbak Elsa malah sama-sama bisa mendatangi Masjid Cheng Ho Surabaya. Great!

Sembari menunggu waktu Salat Dzuhur, kami bertiga menikmati masjid yang dibangun atas inisiatif etnis Tionghoa tersebut. Saya dan Mbak Elsa ngobrol sama Mas Gatot, penjaga Masjid Cheng Ho, dan Mas Antown seperti biasa...Mengabadikan pemandangan masjid ke dalam sketsa! *Tentang Masjid Cheng Ho akan saya buat dalam postingan tersendiri*

Sesuai janji, dari Masjid Cheng Ho, Mbak Elsa yang piawai menyetir mobil mengajak saya dan Mas Antown ke Zangrandi! Yeeeiyyy...akhirnya!
Belum puas, kami lanjutkan jalan-jalan ke kampus B Unair. Seperti kopdar-kopdar biasanya, di sesi ini juga nggak lepas dari pengadabadian moment alias berfoto ria! Bahkan di depan kampus Fakultas Ilmu Budaya sekalipun. Hehehe... Boleh bilang narsis kok!

Tapi, di kampus ini kami harus berpisah. Setelah berfoto ria, berhahahihi, bersalaman, berpelukan, kemudian melambaikan tangan. I'll miss you, sis! Semoga kapan-kapan bisa ketemu lagi yaaa...

---bersambung--

Ngeblog Itu Nggak Ada Ruginya!

Teknologi informasi sudah berkembang begitu pesat, sampai hampir menggeser semua media tradisional. Lihat saja aktivitas berkirim surat (korespondensi) yang semakin terkikis habis. Tidak percaya? Coba sekali-kali datang ke kantor pos dan tanyakan berapa banyak masyarakat yang masih berkirim surat? Atau berapa kartu ucapan yang masih dikirim via pos?

Di Pangkalan Bun misalnya, kepala kantor pos setempat mengaku lebih banyak mengirimkan surat resmi dari kantor dinas. Demikian juga dengan kartu ucapan hari-hari besar. Jumlah masyarakat yang menggunakan jasa pos terutama pengiriman surat, sudah berkurang hingga 90%. Selebihnya, hanya kantor-kantor dinas yang masih sering berkirim surat resmi. Jasa pos yang masih berjalan normal hanya pengiriman barang.

Saya tidak menyalahkan perkembangan teknologi informasi. Saya justru senang karena saya masuk dalam penikmatnya. Tapi, saya juga kehilangan. Saya merasa kehilangan kebiasaan membaca kertas surat dari sahabat saya, saya kangen dengan bentuk tulisan tangannya, dan saya juga kangen dengan wangi kertas warna-warni yang sering mereka gunakan.*Sentimentil sekali*

Sekarang, tulisan tangan sahabat saya sudah berganti dengan pesan singkat di HP, email, wall di FB, atau tulisan panjang di blog. Meski sama penulisnya, tapi saya merasa lebih menikmati ketika membaca tulisan tangan. Membacanya, menciumi aroma wangi kertas surat sambil berbaring dengan mata menerawang.. Penuh sensasi! Hahayyy! Jadul sekali saya ini!

*Cukup ah lebainya*


Btw, kemarin, saya dapat award persahabatan dari Bunda Desri. Kami memang belum pernah bertemu langsung, belum pernah berkirim email atau chat di Ym. Apalagi berkirim surat aneka warna dan aroma. Tapi, kami saling mengunjungi di blog, saling suport, saling mengisi, saling berbagi... Semoga suatu saat bisa ketemuan ya bunda.. 9tj3eu

Persahabatan itu ibarat tangan dengan mata. Ketika tangan terluka, mata menangis. Ketika mata menangis, tangan menghapusnya. Bahkan ada yang bilang, kekayaan tidak akan bisa membeli seorang sahabat atau membayar kerugian akibat kehilangan seorang sahabat. Duuh, jangan sampai kita kehilangan sahabat..

Saya bersyukur karena banyak bertemu sahabat baik dari blog. Ternyata, ketika bertemu langsung, mereka orang-orang yang sangat menyenangkan. Nice person laah! Nggak rugi saya nge-blog. Dan memang nggak ada ruginya nge-blog. Mengasah keterampilan menulis dan menambah teman. Syukur-syukur kalau bisa dapat penghasilan dari nge-blog! Kenapa tidak?

Tidak ada yang salah dengan nge-blog atau berinternet. Sama halnya di kehidupan nyata, di dunia maya juga kita akan bertemu dengan orang-orang yang iseng, baik, lucu, tukang ngibul, bahkan orang jahat sekalipun. Di manapun kita berada, kita pasti akan tetap bertemu manusia dengan segala variasinya. Masih banyak kok blogger yang menulis dengan jujur, tapi tidak sedikit juga blogger yang suka ngibul. Pandai-pandai membawa diri saja dan tentunya, harus tetap selektif!

Mancing

Lama sekali saya tidak refreshing ke pantai. Selalu saja ada halangan ketika ada kesempatan untuk pergi ke pantai. Meski dalam hati teramat rindu dengan bau laut, bau busuk ikan dan udang yang dikeringkan, dan yang pasti sapaan lembut angin laut.

Dan kemarin, Minggu, 19 Juli 2009, Astri dan keluarga mengajak saya ke Pantai Tanjung Penghujan.  MANCING! Hmmm tawaran bagus, dan tidak ada alasan untuk menolak. Apalagi hari Minggu kemarin saya libur dari rutinitas yang menjemukan: NGANTOR. Artinya, saya FREE dari kerjaan.

Minggu pagi saya dijemput ke rumah Astri. Guess what?? Tidak seperti para pemancing pada umumnya, persiapan mereka justru lebih fokus pada bekal makanan selama di pantai! Oh, no!

'Ini persiapan mancing, atau piknik keluarga??' tanya saya.

'Ini piknik sekalian mancing,' jawab Iman, suami Astri.

Yayaya... Baiklah..

Perjalanan pun dimulai. Jalan yang tidak mulus, penuh lubang di hampir semua badan jalan, berdebu, mual, pusing, badan pegal, semuanya hilang setelah sampai di Pantai Tanjung Penghujan.

Pantai yang terletak di ujung Kabupaten Kotawaringin Barat ini memang sebuah tanjung (bagian yang paling menjorok ke laut). Dari pantai ini, kita bisa  melihat pemandangan laut hampir satu lingkaran. Kita seperti berada di pulau di tengah laut! Pantai yang landai, pasir putih halus, air yang bening,  dan cemara laut, ditingkahi suara-suara burung melengkapi suasana liburan kali ini. Alhamdulillaaah...

Makan siang di bawah rindangnya pohon cemara dan suasana pantai, terasa lebih nikmat dari biasanya. Apalagi dilanjutkan dengan sholat.. Alhamdulillahi Robbil Alamiiin...

Syukur Alhamdulillah, merantau di sini, saya menemukan keluarga baik seperti mereka! *hug*

Skrinsyuuuuuuuuuuuuuttt!!!!!


uhuuy

Dewantara Jr

Awalnya saya cuek melihat kedatangan kawan cantik satu ini. Mengulurkan tangan, menyebutkan nama, dan berbasa-basi sedikit, kemudian saya kembali ke monitor, sibuk dengan naskah-naskah. Itu adalah awal perkenalan saya dengan perempuan nan lembut ini. Seorang perempuan manis yang menjadi istri dari salah satu kawan saya di kantor.

Pada setiap perkenalan awal, saya memang kerap menarik diri untuk mengamati lebih dulu ketimbang langsung membaur. Entah kenapa, itu sering terjadi di setiap awal perkenalan.. *Mungkin karena saya terlalu waspada*

Tapi, pada kesempatan-kesempatan berikutnya, ketika kami sudah merasa sama-sama cocok, yang ada adalah RAMAI. Karena saya tidak betah diam dengan teman-teman yang sudah dekat. Yang pasti, suasana ketika kami berkumpul harus seru!

Dan pagi tadi, sahabat saya ini, tiba-tiba muncul di rumah sakit dengan tertatih dan napas tersengal. Kaget, karena hari ini seharusnya dia bersiap terbang ke Jawa. 'Nggak jadi, udah mau melahirkan," tutur suaminya. Saya membelalak. Yah, Man pupose … ALLAH dispose..


Setelah melalui proses panjang, dari pagi  hingga sore hari dengan terus mengucap takbir dan istghfar sambil menahan sakit, akhirnya, selepas maghrib sang jabang bayi lahir.. Alhamdulillah..

Sahabat manis saya kedatangan tamu kecil yang sudah dinanti-nantikannya selama sembilan bulan lamanya..  Dia melahirkan bayi mungil laki-laki nan gagah.. Melahirkan dengan normal, sesuai dengan harapan Resty..
Posting ini didedikasian untuk Dewantara dan Resty, selamat atas kelahiran Dewantara Jr... (cozy)

* Hari ini sangat-sangat indah sobat. Tak hanya menyambut kelahiran Dewantara Jr tapi juga pelajaran berharga tentang perjuangan seorang ibu untuk melahirkan. Betapa saya hampir menitikan air mata setiap kali mendengar rintih kesakitan sahabat manisku, Resty..  Jadi kangen ibu..


** Ini adalah kali pertama saya menyaksikan seseorang melahirkan, meski tidak tuntas karena saya masih saja dikejar-kejar deadline.. Yah, setidaknya saya bisa ikut merasakan ketika Resty mengerang dan menggelinjang kesakitan. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya dingin, dan napasnya tersengal..

*** Melihat pemandangan ini, ada yang bertanya, ethie, trauma nggak? Jawabnya, tidak sama sekali. Kelak, saya akan menjadi perempuan paling bahagia bisa melahirkan putra-putri terbaik.. Semoga. Amiiiin..

Faux pas

Heks! Dua hari yang lalu, seorang sahabat [sepertinya] melayangkan Faux Pas pada saya. Entahlah dia sengaja atau tidak, tapi yang pasti sempat bikin hati saya DEGH! Oh mom... Bagaimana bisa dia bicara seperti itu pada saya??? *tsaah! bahasanya sinetron bangett*

Tapi saya buru-buru menepis, semoga dia benar-benar tidak sengaja bicara seperti itu, dia refleks ngomong begitu, atau dia lagi banyak pikiran jadi asal ngomong. Huufff... Walaupun yaaa, ada juga sedikit rasa 'sakit'.

Saya jadi terpikir, jangan-jangan saya juga pernah begitu atau malah sering melakukan Faux Pas sama teman, orang-orang yang baru saya kenal, atau dengan keluarga tapi saya sendiri nggak nyadar? wew!

Jangan-jangan, saking bebalnya saya baru nyadar setelah semuanya berlalu? Atau nyadar sih, tapi setelah orang yang saya ajak bicara bilang, 'MAKSUD LOOOO?' atau mimik orang yang saya ajak bicara tiba-tiba berubah, air mukanya jadi sedih.. Duh, gimana ya? Teman-teman juga pernah mengalaminya kan? iya kan? iya kan? (nyari teman!)

Sebab, yang beginian sering nggak sadar melontarkannya. Apalagi dengan orang-orang terdekat kita atau yang merasa dekat dengan kita. Maksud kita mungkin sekedar becanda, tapi belum tentu mereka juga beranggapan sama toh..? Maksud kita begini, tapi mereka menerimanya begitu.. Yang begini kan kita nggak bisa mengendalikannya. So, mesti hati-hati kalo ngomong, kalo SMS, kalo chating, kalo plurking..


Salah bicara yang bikin suasana jadi nggak enak ini biasanya disebut Faux Pas. Modusnya, bisa jadi memang nggak sengaja ngomong seperti itu, atau bisa jadi juga memang maksudnya seperti itu.. huff..

Biar nggak ber-negative thinking, biasanya saya berusaha berpikir sebaliknya. Berpikir, mungkin maksud dia nggak seperti itu, mungkin dia lidahnya lagi kepleset.  Bukannya, manusia tempat salah dan lupa? Intinya, berusaha untuk positive thinking..

Dan yang terakhir, mengasah sensitivitas kita. Jadi, kalau mau ngomong dipikir dulu. Kira-kira kalau saya ngomong begini, dia sakit hati nggak ya? Atau dengan mengembalikannya ke diri sendiri, kira-kira kalau saya yang mendapat omongan begini, sakit hati nggak ya? Kalau kita juga bakal merasa sakit hati, sebaiknya nggak usah dilontarkan. Pesan ibu saya, jangan mencubit kalau nggak mau dicubit.


Kalau kita yang jadi korban faux pas, effortnya kan lebih ringan karena tinggal kita mentralisir  suasana hati. Tapi kalau kita yang jadi pelaku faux pas? hmm...  Gawat! Kecuali kalau kita bisa jelasin duduk persoalan dan maksudnya. Itupun kalau kita nyadar, kalau pas lagi bebal???


*sigh* Terakhir nih, beberapa minggu lalu seseorang melontarkan kalimat yang bikin saya 'bercula' plus sedih tiada tara. Tapi mudah-mudahan itu cuma faux pas dan dia nggak bermaksud menyinggung perasaan saya atau bikin saya sedih. Yeah, I hope.

Sahabat (2) - Agus Rivolta

Tadi pagi, tiba-tiba saya teringat seorang sahabat di Pulau Sumatra sana. Kangen dan sedih tiap kali mengingatnya. Kami benar-benar lost contact. Saya cuma ingat, terakhir bertemu ketika saya selesai wisuda dan harus mengurus legalisir ijazah. Dan dia? Dia masih sibuk mengurus skripsinya..*Maaf sob, gw duluan. Nunggu lo lamaaaa*

Namanya Agus Rivolta. Nama yang bagus yang sering saya plesetkan jadi Agus Ripoltak. Dia satu-satunya sahabat cowok paling dekat yang pernah saya punya selama kuliah. Pertama kenal, ketika saya dapat tugas dari Teknokra, salah satu pers mahasiswa di Universitas Lampung. Saya ditugasi mengumpulkan bukti pembayaran SPP dari semua jurusan di FKIP untuk keperluan litbang saat itu. Dan satu di antara mahasiswa yang saya jadikan sampel adalah Gusdur Ripoltak.

Sejak itu, saya dekat dengan dia. Mulai dari bertukar buku, ke perpustakaan, SCSC, rektorat, kantin, dan pulang bareng. Saking dekatnya, banyak yang mengira kami pacaran, tapi tidak sedikit yang menyangka kami kakak beradik atau sudah bersahabat sejak SMA.

Yeah, dugaan kami kakak beradik, karena kulit kami sama-sama putih (saat itu), matanya juga hampir sama, dan cara jalan yang katanya mirip!  Untuk yang terakhir saya nggak terima. Tapi banyak yang bilang begitu. Mereka bilang, cara jalan saya dan Agus ketika menuruni tangga itu sama. Oh, noooo!! *mosok cara jalan cewek dan cowok sama*

Perkiraan saya dan Agus pacaran, ini yang bikin risih. Saya sering protes karena pamor saya sebagai cewek single jatuh lantaran dikira pacaran sama Agus. Weks, ogaaah!
ethie: Poltak, banyak cewek yang nanyain gw pacaran sama lo tuh. Ih, gw sih ogah!

Agus: Bilang aja iya. Hahahahaha..

ethie: Ogah ya pacaran sama cowok playboy cap kodok nungging kayak lo. weks! Lo udah nurunin pamor gw niih. Klarifikasi gih!

Agus: Gw juga ogah pacaran sama cewek tomboy kayak lo. Gak gw bangeeeeeeetttt... weks!

ethie: eh, tomboy sama playboy cocok tauk..  (Dan kami sama-sama tertawa)

Agus juga sosok yang tenar di kalangan cewek. Saya sampai kelabakan meladeni pertanyaan cewek-cewek genit itu.  Agus tenar karena dia memang cakep. Mirip sekali dengan Vic Zhou, aktor yang tenar di film Meteor Garden. (Pengen diaplod, tapi sayang, fotonya tertinggal di rumah...) Kedua, dia juga jago maen basket. Selebihnya, entahlah.. Yang pasti, di mata saya, dia sangat sangat baik.

Yang selalu saya ingat dari dia adalah setiap Januari, dia pasti ngasih saya dua buah coklat. Dua-duanya saya habiskan sendiri.

Hal paling memalukan adalah ketika dia tertawa terpingkal-pingkal melihat saya pakai rok ke kampus. Itu pertama kalinya saya pakai rok di kampus. Dan ternyata sukses bikin dia tertawa! Tapi lama kelamaan dia terbiasa melihat saya pakai rok.

Ada banyak kenangan indah dan lucu ketika bersamanya. Bawah pohon mahoni depan kampus FKIP Unila adalah tempat favorit kami. Di situ tempat kami berkeluh kesah, berbagi cerita, bercanda. Ah, kira-kira pohon mahoni itu masih ada nggak ya.. Dia pohon penyaksi persahabatan saya dan Agus.

Semoga suatu saat nanti kami bisa bertemu lagi. Saya tidak tahu, apakah dia masih di Lampung Utara atau sudah pulang ke Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Teman-teman Agus yang pernah saya kenal, sudah ganti nomor HP. Bener-bener lost contact..

Sob, lu dimana siihhhh??? Gw kangen tauuuk, kangen sama coklat Januarimu. Kangen sama panggilan sayang lu ke gw, kangen duduk di bawah pohon mahoni, kangen liat Gunung Rajabasa dari lantai lima rektorat.. kangeen semuanyaa...

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku
Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi
Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah… lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang… terbang meninggalkanmu
Ku s’lalu membanggakanmu, kaupun s’lalu menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka
Tak pernah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini


by: sheila on 7

Syukur, Sabar, dan Ikhlaskan

Temans, tahu kan kalau kita diciptakan untuk berpasang-pasangan? Pasti tahu lah... Sandal aja berpasang-pasangan. Demikian juga dengan kehidupan yang kita jalani. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Ada say hello, pasti ada say goodbye. Ada hitam, ada putih. Ada gula, ada semut. Ada ethie, ada...

Itu lah hidup, ritmenya selalu berganti-ganti sepanjang kita masih bernapas, sepanjang kita masih menghirup udara, dan sepanjang jalan kenangan...

Fokuuusss!!  *pentung*

Kenapa sih seperti itu, kenapa nggak lancar-lancar aja, kenapa harus ada pertemuan kalau toh berpisah juga? Kenapa mesti seperti itu, kenapa nggak seperti ini saja?  Kenapa begini, kenapa begitu?

Temans, (ini ngomong ke diri sendiri juga lho) sekali lagi, itulah hidup sobat! Kalau nggak seperti itu, hidup kita pasti monoton. Kalau semua dilancarkan, kalau tidak ada orang yang merasa kehilangan, kalau nggak ada orang sedih, kalau nggak ada mereka yang hidup serba kekurangan, kita PASTI nggak akan punya pembanding. Dan yang pasti kita akan sulit, bahkan akan lupa untuk bersyukur.

Adanya kehilangan, kesedihan, kekecewaan, kematian, kekurangan, suka, senang, bahagia, dan kaya,  itu sebagai pengingat bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kesedihan nggak abadi, kebahagiaan juga nggak. Semua akan terus bergulir, silih berganti..

So, emang kudu sabar, rek! Walaupun sabar itu emang susaaaaah bangett. Apalagi sabar disertai ikhlas, uh, seandainya saya bisa... Mari belajar sabar dan ikhlas..

Btw sob, kemarin-kemarin... Halah, gak jelas nih! Ya oke, tanggal 10 Juni 2009, see? Saya dapat ujian. Dibilang berat, ya berat karena memang nggak mudah saya melewatinya. Dibilang ringan, juga ringan karena masih banyak orang yang mendapat ujian lebih berat, bahkan teramat sangat berat dibandingkan saya.. Dan ujian yang saya alami ini ndak ada apa-apanya  sama mereka.  Tapi, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNYA?

So, kembali lagi, yang diperlukan adalah bersyukur, bersabar, dan ikhlas. Mudah mengatakan, tapi sulit dilaksanakan. Dan sekali lagi, mari belajar bersyukur, bersabar, dan ikhlas..

Di tengah ujian yang saya hadapi, saya baru menyadari bahwa  saya dikarunia anak sahabat yang sangat-sangat baik.  Shabat berbagi, bercanda ria.. Ada Mbak Dian, Mbak Rika, juga Eni.. Ada Bunda Menik, Pepi, Phie, Aji, Wendut, Presty, Boodee, Ina, dan teman-teman di luar sana yang dengan sabar memberi saya dukungan, tak bosan mengingatkan agar saya mengingat kekuatan Allah.. Agar saya ikhlas..

Ada Ali, Alwan, dan Budi yang dua hari terakhir ini gitaran sambil nyanyi biar saya nggak sedih. Gitarannya gantian, nyanyinya juga gantian! Ali, teman yang bersikap konyol demi melihat saya tertawa...   Semua demi melihat saya tetap tegar dan ikhlas.. Uuhh, thanks all...

Ada Astri dan Uli, kaka beradik yang udah baiiiiik banget. Mereka berdua yang becandain biar saya  ceria, ngajak jalan-jalan, dan berbagi tentang semua hal..

Dan ada Ari Susanti, teman kuliah, yang sudah lebih dari seorang sodara. Thanks, kri! Meski jarak memisahkan kita, saya di Kalimantan dan dia di Lampung, dialah orang pertama yang saya hubungi ketika terjadi sesuatu. Dia, sahabat yang mendengarkan cerita saya meski sambil masak, sambil cuci piring, sambil ketiduran..  Dengan dia, saya berbagi suka dan duka, semuanyaaaa dari yang paling pelik sampai yang bikin menye-menye..

All, thanks for hugging me, hearing me eventhought I did something terrible..

Sahabat (1)

foto069Namanya Eva Fidiawati. Salah satu sahabat saya ketika kuliah di Lampung dulu. Sahabat yang pintar memasak, mengurus keuangan, berbisnis meski dalam skala kecil,  dan yang pasti sering memberi masukan-masukan ketika saya tengah bimbang. Dia juga seorang yang realistis. Tidak hanya itu, dia juga orang yang tegas dan tegar. Meski kadang ketegasannya membuat saya salah tafsir.

(Maaf ya jenk..) cozy

Perjalanan persahabatan selama kuliah juga diisi dengan ketidakcocokan yang kerap membuat masing-masing berdiam diri, dan kembali memahami. Ya memahami, bahwa bersahabat tidak harus selalu satu ide, satu rasa, satu selera, dan satu lainnya. Berbeda malah indah toh..

Pertengahan 2002 sampai 2006 saya selalu bersama dengannya, ya karena dia memang selalu menyediakan tempat duduk satu, khusus buatku ketika sama-sama satu mata kuliah. Dia juga yang mengingatkanku supaya fokus mendengarkan dosen di depan. Ya, karena saya memang selalu asik dengan diri sendiri. idiotKalau sudah begitu, biasanya saya kesel tapi tetap nurut sama dia.

Sampai pada Juni 2006, ternyata dia harus meninggalkan saya. Dia wisuda Juni, sedangkan saya masih sibuk mengurus ujian skripsi. Hmmm.. Kalau saya sedikit gigih, pasti bisa wisuda bareng dengannya. Terpaksa saya diwisuda September 2006. Hari ketika dia diwisuda, saya foto bersama dengan dia dan pacarnya, Budi, orang yang kini menjadi suaminya..   Selamat sahabatku..

Awal 2008, dia dan Budi memutuskan untuk menikah. Bahagianya. Kala itu, saya sudah berada di Pulau Kalimantan. Sekali lagi selamat ya Va.. (semoga dia membaca)

Dua hari lalu, dia tiba-tiba kirim SMS. Ah iya, sudah satu bulan lamanya saya tidak pernah berkirim kabar dengannya. Dan kemarin dia mengingatkan bahwa ada dia di belahan pulau lain yang ingin berbagi. Eva memberi kabar, suaminya masuk rumah sakit karena tipes. Dia juga membagi fotonya bersama anak dan suaminya via MMS.

Bahagianya melihat seorang sahabat kita memiliki kebahagiaan seutuhnya. Melihat dia, suami dan anaknya berbahagia meski sedang diuji sakit. Cepet sembuh yaa...  :-)

*Itu salah satu foto yang dia kirim*
 
Cerita Kita Blog Design by Ipietoon