Tidak terasa, besok sudah Idul Adha. Dan untuk ketiga kalinya saya harus merayakan Idul Adha di kota kecil ini. Artinya, sudah tiga tahun saya berada di sini. Sudah mengalahkan Bang Thoyib yang hanya dua tahun meninggalkan anak dan istri.
Padahal, rasanya baru kemarin saya kebingungan memilih antara hidup di kota sendiri dan kota kecil di luar Pulau Jawa. Antara jadi guru dan kuli tinta. Antara keluarga dan pengalaman baru. Juga antara kau dan aku.
Rasanya, baru kemarin saya memutuskan sebuah pilihan berat. Tiba-tiba sekarang saya harus berhadapan dengan pilihan-pilihan yang tidak kalah beratnya.
Rasanya, baru kemarin saya dalam keterpurukan, tapi hari ini saya begitu bersemangat menjalani kehidupan. Saya seperti mendapat suntikan yang memacu adrenalin, sampai lupa makan dari kemarin.
Dan rasanya, baru kemarin musim panas, sekarang tiba-tiba hujan turun begitu deras.
Ya..rasa-rasanya..Dan beginilah rasanya..
Sebenarnya, ketika saya bercerita dengan menggunakan kalimat, 'Rasanya, baru kemarin...', saya sendiri tidak yakin. Karena kalimat itu seolah menunjukkan bahwa selama saya di sini, saya menjalaninya dengan begitu mudah tanpa ada halangan, tanpa ada cobaan. Seolah saya menjalani waktu tiga tahun dengan begitu ringan tanpa beban.
Padahal kenyataannya, tidak segampang itu. Tidak jarang saya menangis karena merasa sendirian. Tidak ada satupun famili yang bisa saya datangi. Apalagi ketika libur seperti hari ini, saya hanya bisa menikmatinya sendiri. Kantor dan kantor lagi, kosan dan kosan lagi.
Ah ya, memang ada banyak teman di sini, tapi mereka juga punya keluarga sendiri. Saya harus tahu diri karena mereka juga punya kepentingan, punya keperluan dengan anggota keluarga yang lain.
Harusnya saya sudah kebal tapi saya juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang mengganjal. Saya memang kebal ketika harus memendam rindu pada keluarga dan ketika harus menepis lara yang mendera. Karena di sini, saya harus pandai membalut luka sendiri, saya harus pintar menjaga diri, saya harus bisa melakukan apapun sendiri, termasuk ketika harus mengerik badan sendiri...
Tapi..saya juga tidak bisa selamanya seperti ini!
Yah, semoga Desember yang dinanti bisa membawa saya ke luar dari kota ini, bisa membawa perubahan berarti dan lebih baik dari hari ini. Semoga!
Selamat Idul Adha 1430 H. Semoga kita bisa meneladani keikhlasan dan kebesaran hati Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Akhirnya, selamat menikmati hidangan keluarga yang pasti lezat rasanya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
rasane baru kemaren ya kita ngobrol di tempat bermain CL semarang :roll:
ReplyDeleteselamat idul adha...
ReplyDeletetaun wingi nyembelih sapi, taun iki rak iso.. hiks..
ReplyDelete:lol: <<pengen iso ngguyu model iki
aku pun ingin merasakan kembali menggigit pipimu nduk.. siniiiiiiiiii :evil:
ReplyDeletejangan sedih...kan ada aku di sini menemanimu...
ReplyDeleteSelamat Idul Adha 1430 H untuk sahabatku tercinta…..
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
wow !!! :shock: :shock: :shock:
ReplyDeleteperjuangan banget keknya ya. yang penting tetep semangat, cuma kata itu yang bikin anak rantau tetep bs "hidup" setidaknya utk bertahan hingga tetes parfum terakhir, heheheu ... :razz:
jangan salahkan kampung gw itu ya, kampung gw emg begitu. gw aja 9 bulan disitu baru ngerti, kenapa sodara2 sedarah jumlahnya cukup banyak dikota ini (JKT). makanya gw balik lagi, heheu... :lol:
salam sama bang Toyib klo ketemu ya, kan sama2 nge-rantau.. hihihi :grin:
curcol ditambah sambel terasi enak sekali.
ReplyDeleterasanya baru kemaren aku ga jomblo :| :lol:
ReplyDeleterasanya baru kemaren? waktu emang begitu cepat berlalu ya Ethie....
ReplyDeleterasanya juga baru kemaren pesta sate kambing. sekarang kok sudah pingin makana sate kambing lagi ya???
hehehehehe...kemaruk nih namanya!