Tidak terasa, besok sudah Idul Adha. Dan untuk ketiga kalinya saya harus merayakan Idul Adha di kota kecil ini. Artinya, sudah tiga tahun saya berada di sini. Sudah mengalahkan Bang Thoyib yang hanya dua tahun meninggalkan anak dan istri.
Padahal, rasanya baru kemarin saya kebingungan memilih antara hidup di kota sendiri dan kota kecil di luar Pulau Jawa. Antara jadi guru dan kuli tinta. Antara keluarga dan pengalaman baru. Juga antara kau dan aku.
Rasanya, baru kemarin saya memutuskan sebuah pilihan berat. Tiba-tiba sekarang saya harus berhadapan dengan pilihan-pilihan yang tidak kalah beratnya.
Rasanya, baru kemarin saya dalam keterpurukan, tapi hari ini saya begitu bersemangat menjalani kehidupan. Saya seperti mendapat suntikan yang memacu adrenalin, sampai lupa makan dari kemarin.
Dan rasanya, baru kemarin musim panas, sekarang tiba-tiba hujan turun begitu deras.
Ya..rasa-rasanya..Dan beginilah rasanya..
Sebenarnya, ketika saya bercerita dengan menggunakan kalimat, 'Rasanya, baru kemarin...', saya sendiri tidak yakin. Karena kalimat itu seolah menunjukkan bahwa selama saya di sini, saya menjalaninya dengan begitu mudah tanpa ada halangan, tanpa ada cobaan. Seolah saya menjalani waktu tiga tahun dengan begitu ringan tanpa beban.
Padahal kenyataannya, tidak segampang itu. Tidak jarang saya menangis karena merasa sendirian. Tidak ada satupun famili yang bisa saya datangi. Apalagi ketika libur seperti hari ini, saya hanya bisa menikmatinya sendiri. Kantor dan kantor lagi, kosan dan kosan lagi.
Ah ya, memang ada banyak teman di sini, tapi mereka juga punya keluarga sendiri. Saya harus tahu diri karena mereka juga punya kepentingan, punya keperluan dengan anggota keluarga yang lain.
Harusnya saya sudah kebal tapi saya juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang mengganjal. Saya memang kebal ketika harus memendam rindu pada keluarga dan ketika harus menepis lara yang mendera. Karena di sini, saya harus pandai membalut luka sendiri, saya harus pintar menjaga diri, saya harus bisa melakukan apapun sendiri, termasuk ketika harus mengerik badan sendiri...
Tapi..saya juga tidak bisa selamanya seperti ini!
Yah, semoga Desember yang dinanti bisa membawa saya ke luar dari kota ini, bisa membawa perubahan berarti dan lebih baik dari hari ini. Semoga!
Selamat Idul Adha 1430 H. Semoga kita bisa meneladani keikhlasan dan kebesaran hati Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Akhirnya, selamat menikmati hidangan keluarga yang pasti lezat rasanya.
Showing posts with label Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Pribadi. Show all posts
Awali Hari dengan Senyum
Awali harimu dengan senyuman. Ajakan ini memang mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan. Setidaknya bagi saya pribadi. Mood yang sering acak-adut, nggak bisa dikontrol dan diajak kompromi ini lumayan mengganggu sebenarnya.
Padahal, sejauh yang pernah saya alami, kalau saya memulai hari dengan mood jelek bin acak-adut, maka sepanjang hari mood saya juga jelek. Bahkan hingga menjelang tidur lagi, mood jelek enggan sekali untuk beringsut. Badmood begitu betah berdekatan dengan saya, memeluk saya, sampai akhirnya saya merasa terhimpit. Ugh!
Sebaliknya, kalau saya memulai hari dengan senyuman, sepanjang hari itu, hidup saya [seperti] dihiasi senyum kebahagian, hidup juga terasa ringan, walaupun tangan tak bawa uang. Heee...
Kenapa?
Ternyata ini semua karena ulah si endorphine!
Iya, endorphine.
Katanya, pada saat tersenyum, kita melepaskan kelenjar endorphine. Endorphine ini singkatan dari Endogoneus Morphine atau morphine yang dihasilkan oleh tubuh kita.
Hmmm...Apakah ini berarti orang-orang yang dirawat di rumah sakit jiwa memiliki endorphine berlebihan? Mereka kan selalu senyam-senyum sendiri...
Dan sependek pengetahuan saya, ternyata (lagi), ada lho orang yang ingin selalu merasa nyaman dengan melakukan segala cara, bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Cara ini namanya cutting, yakni upaya melukai diri sendiri dengan cara mengiris tangan sendiri menggunakan silet atau cutter dan sejenisnya.
Hmmm... Bagaimana dengan tato dan body piercing? Berarti mereka masuk dalam kategori cutting dunk?
Yaiyalaaaahhh... *hati kecil saya yang jawab*
Melalui cutting, [katanya], mereka akan mendapatkan endorphin yang bisa membuat perasaan lebih nyaman. Nah, orang-orang yang suka melakukan cutting ini biasanya cowok atau cewek emo kid. *Jangan ditiru yak!*
Halaaaah.. Kok bahasan saya sampai emo kid segala sih??? *pentung*
CMIIW yaaaakkkk!!! Kalo ada yang salah.
.
.
.
So, buat teman-teman, juga saya sendiri, yuk awali hari dengan senyuman termanis kita...! :)
Padahal, sejauh yang pernah saya alami, kalau saya memulai hari dengan mood jelek bin acak-adut, maka sepanjang hari mood saya juga jelek. Bahkan hingga menjelang tidur lagi, mood jelek enggan sekali untuk beringsut. Badmood begitu betah berdekatan dengan saya, memeluk saya, sampai akhirnya saya merasa terhimpit. Ugh!
Sebaliknya, kalau saya memulai hari dengan senyuman, sepanjang hari itu, hidup saya [seperti] dihiasi senyum kebahagian, hidup juga terasa ringan, walaupun tangan tak bawa uang. Heee...
Kenapa?
Ternyata ini semua karena ulah si endorphine!
Iya, endorphine.
Katanya, pada saat tersenyum, kita melepaskan kelenjar endorphine. Endorphine ini singkatan dari Endogoneus Morphine atau morphine yang dihasilkan oleh tubuh kita.
Endorphine adalah senyawa penting dalam kehidupan kita yang menjadikan seseorang merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Intinya, endorphin ini zat yang bisa membuat diri kita merasa senang dan membuat gerak kita lebih banyak.
Hmmm...Apakah ini berarti orang-orang yang dirawat di rumah sakit jiwa memiliki endorphine berlebihan? Mereka kan selalu senyam-senyum sendiri...
Dan sependek pengetahuan saya, ternyata (lagi), ada lho orang yang ingin selalu merasa nyaman dengan melakukan segala cara, bahkan sampai melukai dirinya sendiri. Cara ini namanya cutting, yakni upaya melukai diri sendiri dengan cara mengiris tangan sendiri menggunakan silet atau cutter dan sejenisnya.
Hmmm... Bagaimana dengan tato dan body piercing? Berarti mereka masuk dalam kategori cutting dunk?
Yaiyalaaaahhh... *hati kecil saya yang jawab*
Melalui cutting, [katanya], mereka akan mendapatkan endorphin yang bisa membuat perasaan lebih nyaman. Nah, orang-orang yang suka melakukan cutting ini biasanya cowok atau cewek emo kid. *Jangan ditiru yak!*
Halaaaah.. Kok bahasan saya sampai emo kid segala sih??? *pentung*
CMIIW yaaaakkkk!!! Kalo ada yang salah.
.
.
.
So, buat teman-teman, juga saya sendiri, yuk awali hari dengan senyuman termanis kita...! :)
Labels:
emo kid,
Endorphine,
piercing,
Pribadi
Aku merindu hingga gagu
Kalau diibaratkan dengan makanan, perasaan saya ini pasti sudah seperti roti yang menjamur. Untuk kemudian melebur menjadi remah-remah hancur.
Perasaan yang menghinggapi saya untuk kesekian ratus hari ini adalah rasa bosan. Rasa bosan, yang diselimuti takut kehilangan. Perasaan yang sebenarnya biasa, dan sudah lama mendera. Tapi saya tidak tahu harus dengan cara apa memusnahkannya?
Saya sadar, keberadaan saya di sini, selain untuk bekerja, tidak lain dan tidak bukan karena ada sedikit motivasi untuk menjauh dari hiruk pikuk 'kota'. Awalnya, saya pikir pelarian ini tidak akan berlangsung lama dan saya bisa 'kabur' kapan saja. Tapi pada kenyataannya, tidak semudah yang saya duga.
Padahal berada di sini, sama seperti memunggungi keluarga sendiri. Jauh dan terasa sulit sekali menghampiri. Meski kadang rasa kangen membuncah.
Ah iya, semua rasa ini seharusnya sudah lama bisa saya akhiri. Dan jika akhirnya saya harus mengakhiri, semoga tak ada sesal di kemudian hari. Jika akhirnya saya harus kembali memulai, semoga saya tidak terlalu cemas untuk sesuatu yang belum tentu terjadi. Jika dan hanya jika..
Bukankah hidup hanya soal pilihan? Memilih sesuatu yang sudah ada tapi kamu terpaku, atau memilih sesuatu yang belum ada tapi kamu yakin mampu? Bukankah pertolongan Allah datang dari segala penjuru? Kalau begitu, kenapa kamu masih ragu???
Hmm yeaahh!
Btw, kemarin baru baca buku Rectoverso-nya Dee. Keren! *kemane ajeee* Ada kalimat yang sangat saya suka.
Kira-kira begitu kutipannya.
Selamat malam. Tak terasa, esok sudah hari ke-19 kita berpuasa.
Perasaan yang menghinggapi saya untuk kesekian ratus hari ini adalah rasa bosan. Rasa bosan, yang diselimuti takut kehilangan. Perasaan yang sebenarnya biasa, dan sudah lama mendera. Tapi saya tidak tahu harus dengan cara apa memusnahkannya?
Saya sadar, keberadaan saya di sini, selain untuk bekerja, tidak lain dan tidak bukan karena ada sedikit motivasi untuk menjauh dari hiruk pikuk 'kota'. Awalnya, saya pikir pelarian ini tidak akan berlangsung lama dan saya bisa 'kabur' kapan saja. Tapi pada kenyataannya, tidak semudah yang saya duga.
Padahal berada di sini, sama seperti memunggungi keluarga sendiri. Jauh dan terasa sulit sekali menghampiri. Meski kadang rasa kangen membuncah.
Ah iya, semua rasa ini seharusnya sudah lama bisa saya akhiri. Dan jika akhirnya saya harus mengakhiri, semoga tak ada sesal di kemudian hari. Jika akhirnya saya harus kembali memulai, semoga saya tidak terlalu cemas untuk sesuatu yang belum tentu terjadi. Jika dan hanya jika..
Bukankah hidup hanya soal pilihan? Memilih sesuatu yang sudah ada tapi kamu terpaku, atau memilih sesuatu yang belum ada tapi kamu yakin mampu? Bukankah pertolongan Allah datang dari segala penjuru? Kalau begitu, kenapa kamu masih ragu???
Hmm yeaahh!
****
Btw, kemarin baru baca buku Rectoverso-nya Dee. Keren! *kemane ajeee* Ada kalimat yang sangat saya suka.
Aku merindu hingga gagu
Aku mendamba hingga kehilangan daya
Aku terlalu lama terlelap dalam penghukumanku sendiri
Hingga aku takut terbangun dari mimpi.
Kira-kira begitu kutipannya.
Selamat malam. Tak terasa, esok sudah hari ke-19 kita berpuasa.
Labels:
Pribadi,
Very personal taste
Hanya soal 'waktu'
Semalam, entah kenapa tiba-tiba ingin sekali membuka-buka file lama. Hasil ketikan yang cuma sekilas, hanya sempat disimpan, dan dibiarkan tanpa disentuh sama sekali.
Awalnya, berniat suatu saat akan dibuka kembali dan dilanjutkan. Tapi, setiap kali berada di depan kompi bukan itu yang dilakukan, melainkan sibuk browsing ke sana kemari dan melakukan kegiatan I2L.
Dan semalam, ketika membuka satu per satu file-file lama, saya menemukan beberapa cerpen yang masih menggantung tanpa pernah selesai, puisi, note-note tidak penting tentang keseharian, tentang kesehatan, hidup, dan cinta..
Di antara temuan-temuan itu, ternyata ada yang menarik hati saya. Yak, sebuah puisi atau lebih tepatnya coret-coret ndak jelas. Ini diaaa... Monggo dicerewetin, dibantai, diapain lah, suka-suka sodara!
Puisi ini dibuat 8 Februari 2009. Hmmm.. yayaya... Saya masih ingat persoalan itu. Ternyata, ketika saya menghadapi persoalan tersebut, saya sudah menuliskannya dalam sebuah coretan yang disia-siakan. Hingga, pada beberapa bulan kemudian, 'waktu' pun menjawabnya dan kini saya menemukannya kembali.
Pada akhirnya, saya yang harus menerima lara. (atau justru sebaliknya?)
Awalnya, berniat suatu saat akan dibuka kembali dan dilanjutkan. Tapi, setiap kali berada di depan kompi bukan itu yang dilakukan, melainkan sibuk browsing ke sana kemari dan melakukan kegiatan I2L.
Dan semalam, ketika membuka satu per satu file-file lama, saya menemukan beberapa cerpen yang masih menggantung tanpa pernah selesai, puisi, note-note tidak penting tentang keseharian, tentang kesehatan, hidup, dan cinta..
Di antara temuan-temuan itu, ternyata ada yang menarik hati saya. Yak, sebuah puisi atau lebih tepatnya coret-coret ndak jelas. Ini diaaa... Monggo dicerewetin, dibantai, diapain lah, suka-suka sodara!
YANG terasa sekarang adalah hampa.
Hari-hari yang ku jalani bersamamu, seolah sekedar pengusir ragu.
Bahwa kau dan aku sejalan.
Meski tanpa arah, pun tujuan.
Karena tujuan menuju ridhoNYA terhalang olehnya.
Orang yang sangat kau cinta.
Orang yang hanya padanya kau temukan surga.
Aku sadar, kau dalam kebimbangan.
Gamang menentukan pilihan.
Tapi aku tidak akan memaksa.
Biarkan semua mengalir apa adanya.
Biarkan aku menunggu sampai waktunya tiba.
Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa semua hanya soal 'waktu'?
Tak perlu resah dengan lara yang akan mendera.
Karena aku sudah terbiasa dengan lara... -8 Feb 09-
Puisi ini dibuat 8 Februari 2009. Hmmm.. yayaya... Saya masih ingat persoalan itu. Ternyata, ketika saya menghadapi persoalan tersebut, saya sudah menuliskannya dalam sebuah coretan yang disia-siakan. Hingga, pada beberapa bulan kemudian, 'waktu' pun menjawabnya dan kini saya menemukannya kembali.
Pada akhirnya, saya yang harus menerima lara. (atau justru sebaliknya?)
Labels:
Pribadi
Faux pas
Heks! Dua hari yang lalu, seorang sahabat [sepertinya] melayangkan Faux Pas pada saya. Entahlah dia sengaja atau tidak, tapi yang pasti sempat bikin hati saya DEGH! Oh mom... Bagaimana bisa dia bicara seperti itu pada saya??? *tsaah! bahasanya sinetron bangett*
Tapi saya buru-buru menepis, semoga dia benar-benar tidak sengaja bicara seperti itu, dia refleks ngomong begitu, atau dia lagi banyak pikiran jadi asal ngomong. Huufff... Walaupun yaaa, ada juga sedikit rasa 'sakit'.
Saya jadi terpikir, jangan-jangan saya juga pernah begitu atau malah sering melakukan Faux Pas sama teman, orang-orang yang baru saya kenal, atau dengan keluarga tapi saya sendiri nggak nyadar? wew!
Jangan-jangan, saking bebalnya saya baru nyadar setelah semuanya berlalu? Atau nyadar sih, tapi setelah orang yang saya ajak bicara bilang, 'MAKSUD LOOOO?' atau mimik orang yang saya ajak bicara tiba-tiba berubah, air mukanya jadi sedih.. Duh, gimana ya? Teman-teman juga pernah mengalaminya kan? iya kan? iya kan? (nyari teman!)
Sebab, yang beginian sering nggak sadar melontarkannya. Apalagi dengan orang-orang terdekat kita atau yang merasa dekat dengan kita. Maksud kita mungkin sekedar becanda, tapi belum tentu mereka juga beranggapan sama toh..? Maksud kita begini, tapi mereka menerimanya begitu.. Yang begini kan kita nggak bisa mengendalikannya. So, mesti hati-hati kalo ngomong, kalo SMS, kalo chating, kalo plurking..
Salah bicara yang bikin suasana jadi nggak enak ini biasanya disebut Faux Pas. Modusnya, bisa jadi memang nggak sengaja ngomong seperti itu, atau bisa jadi juga memang maksudnya seperti itu.. huff..
Biar nggak ber-negative thinking, biasanya saya berusaha berpikir sebaliknya. Berpikir, mungkin maksud dia nggak seperti itu, mungkin dia lidahnya lagi kepleset. Bukannya, manusia tempat salah dan lupa? Intinya, berusaha untuk positive thinking..
Dan yang terakhir, mengasah sensitivitas kita. Jadi, kalau mau ngomong dipikir dulu. Kira-kira kalau saya ngomong begini, dia sakit hati nggak ya? Atau dengan mengembalikannya ke diri sendiri, kira-kira kalau saya yang mendapat omongan begini, sakit hati nggak ya? Kalau kita juga bakal merasa sakit hati, sebaiknya nggak usah dilontarkan. Pesan ibu saya, jangan mencubit kalau nggak mau dicubit.
Kalau kita yang jadi korban faux pas, effortnya kan lebih ringan karena tinggal kita mentralisir suasana hati. Tapi kalau kita yang jadi pelaku faux pas? hmm... Gawat! Kecuali kalau kita bisa jelasin duduk persoalan dan maksudnya. Itupun kalau kita nyadar, kalau pas lagi bebal???
*sigh* Terakhir nih, beberapa minggu lalu seseorang melontarkan kalimat yang bikin saya 'bercula' plus sedih tiada tara. Tapi mudah-mudahan itu cuma faux pas dan dia nggak bermaksud menyinggung perasaan saya atau bikin saya sedih. Yeah, I hope.
Tapi saya buru-buru menepis, semoga dia benar-benar tidak sengaja bicara seperti itu, dia refleks ngomong begitu, atau dia lagi banyak pikiran jadi asal ngomong. Huufff... Walaupun yaaa, ada juga sedikit rasa 'sakit'.
Saya jadi terpikir, jangan-jangan saya juga pernah begitu atau malah sering melakukan Faux Pas sama teman, orang-orang yang baru saya kenal, atau dengan keluarga tapi saya sendiri nggak nyadar? wew!
Jangan-jangan, saking bebalnya saya baru nyadar setelah semuanya berlalu? Atau nyadar sih, tapi setelah orang yang saya ajak bicara bilang, 'MAKSUD LOOOO?' atau mimik orang yang saya ajak bicara tiba-tiba berubah, air mukanya jadi sedih.. Duh, gimana ya? Teman-teman juga pernah mengalaminya kan? iya kan? iya kan? (nyari teman!)
Sebab, yang beginian sering nggak sadar melontarkannya. Apalagi dengan orang-orang terdekat kita atau yang merasa dekat dengan kita. Maksud kita mungkin sekedar becanda, tapi belum tentu mereka juga beranggapan sama toh..? Maksud kita begini, tapi mereka menerimanya begitu.. Yang begini kan kita nggak bisa mengendalikannya. So, mesti hati-hati kalo ngomong, kalo SMS, kalo chating, kalo plurking..
Salah bicara yang bikin suasana jadi nggak enak ini biasanya disebut Faux Pas. Modusnya, bisa jadi memang nggak sengaja ngomong seperti itu, atau bisa jadi juga memang maksudnya seperti itu.. huff..
Biar nggak ber-negative thinking, biasanya saya berusaha berpikir sebaliknya. Berpikir, mungkin maksud dia nggak seperti itu, mungkin dia lidahnya lagi kepleset. Bukannya, manusia tempat salah dan lupa? Intinya, berusaha untuk positive thinking..
Dan yang terakhir, mengasah sensitivitas kita. Jadi, kalau mau ngomong dipikir dulu. Kira-kira kalau saya ngomong begini, dia sakit hati nggak ya? Atau dengan mengembalikannya ke diri sendiri, kira-kira kalau saya yang mendapat omongan begini, sakit hati nggak ya? Kalau kita juga bakal merasa sakit hati, sebaiknya nggak usah dilontarkan. Pesan ibu saya, jangan mencubit kalau nggak mau dicubit.
Kalau kita yang jadi korban faux pas, effortnya kan lebih ringan karena tinggal kita mentralisir suasana hati. Tapi kalau kita yang jadi pelaku faux pas? hmm... Gawat! Kecuali kalau kita bisa jelasin duduk persoalan dan maksudnya. Itupun kalau kita nyadar, kalau pas lagi bebal???
*sigh* Terakhir nih, beberapa minggu lalu seseorang melontarkan kalimat yang bikin saya 'bercula' plus sedih tiada tara. Tapi mudah-mudahan itu cuma faux pas dan dia nggak bermaksud menyinggung perasaan saya atau bikin saya sedih. Yeah, I hope.
Syukur, Sabar, dan Ikhlaskan
Temans, tahu kan kalau kita diciptakan untuk berpasang-pasangan? Pasti tahu lah... Sandal aja berpasang-pasangan. Demikian juga dengan kehidupan yang kita jalani. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Ada say hello, pasti ada say goodbye. Ada hitam, ada putih. Ada gula, ada semut. Ada ethie, ada...
Itu lah hidup, ritmenya selalu berganti-ganti sepanjang kita masih bernapas, sepanjang kita masih menghirup udara, dan sepanjang jalan kenangan...
Fokuuusss!! *pentung*
Kenapa sih seperti itu, kenapa nggak lancar-lancar aja, kenapa harus ada pertemuan kalau toh berpisah juga? Kenapa mesti seperti itu, kenapa nggak seperti ini saja? Kenapa begini, kenapa begitu?
Temans, (ini ngomong ke diri sendiri juga lho) sekali lagi, itulah hidup sobat! Kalau nggak seperti itu, hidup kita pasti monoton. Kalau semua dilancarkan, kalau tidak ada orang yang merasa kehilangan, kalau nggak ada orang sedih, kalau nggak ada mereka yang hidup serba kekurangan, kita PASTI nggak akan punya pembanding. Dan yang pasti kita akan sulit, bahkan akan lupa untuk bersyukur.
Adanya kehilangan, kesedihan, kekecewaan, kematian, kekurangan, suka, senang, bahagia, dan kaya, itu sebagai pengingat bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kesedihan nggak abadi, kebahagiaan juga nggak. Semua akan terus bergulir, silih berganti..
So, emang kudu sabar, rek! Walaupun sabar itu emang susaaaaah bangett. Apalagi sabar disertai ikhlas, uh, seandainya saya bisa... Mari belajar sabar dan ikhlas..
Btw sob, kemarin-kemarin... Halah, gak jelas nih! Ya oke, tanggal 10 Juni 2009, see? Saya dapat ujian. Dibilang berat, ya berat karena memang nggak mudah saya melewatinya. Dibilang ringan, juga ringan karena masih banyak orang yang mendapat ujian lebih berat, bahkan teramat sangat berat dibandingkan saya.. Dan ujian yang saya alami ini ndak ada apa-apanya sama mereka. Tapi, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNYA?
So, kembali lagi, yang diperlukan adalah bersyukur, bersabar, dan ikhlas. Mudah mengatakan, tapi sulit dilaksanakan. Dan sekali lagi, mari belajar bersyukur, bersabar, dan ikhlas..
Di tengah ujian yang saya hadapi, saya baru menyadari bahwa saya dikarunia anak sahabat yang sangat-sangat baik. Shabat berbagi, bercanda ria.. Ada Mbak Dian, Mbak Rika, juga Eni.. Ada Bunda Menik, Pepi, Phie, Aji, Wendut, Presty, Boodee, Ina, dan teman-teman di luar sana yang dengan sabar memberi saya dukungan, tak bosan mengingatkan agar saya mengingat kekuatan Allah.. Agar saya ikhlas..
Ada Ali, Alwan, dan Budi yang dua hari terakhir ini gitaran sambil nyanyi biar saya nggak sedih. Gitarannya gantian, nyanyinya juga gantian! Ali, teman yang bersikap konyol demi melihat saya tertawa... Semua demi melihat saya tetap tegar dan ikhlas.. Uuhh, thanks all...
Ada Astri dan Uli, kaka beradik yang udah baiiiiik banget. Mereka berdua yang becandain biar saya ceria, ngajak jalan-jalan, dan berbagi tentang semua hal..
Dan ada Ari Susanti, teman kuliah, yang sudah lebih dari seorang sodara. Thanks, kri! Meski jarak memisahkan kita, saya di Kalimantan dan dia di Lampung, dialah orang pertama yang saya hubungi ketika terjadi sesuatu. Dia, sahabat yang mendengarkan cerita saya meski sambil masak, sambil cuci piring, sambil ketiduran.. Dengan dia, saya berbagi suka dan duka, semuanyaaaa dari yang paling pelik sampai yang bikin menye-menye..
All, thanks for hugging me, hearing me eventhought I did something terrible..
Itu lah hidup, ritmenya selalu berganti-ganti sepanjang kita masih bernapas, sepanjang kita masih menghirup udara, dan sepanjang jalan kenangan...
Fokuuusss!! *pentung*
Kenapa sih seperti itu, kenapa nggak lancar-lancar aja, kenapa harus ada pertemuan kalau toh berpisah juga? Kenapa mesti seperti itu, kenapa nggak seperti ini saja? Kenapa begini, kenapa begitu?
Temans, (ini ngomong ke diri sendiri juga lho) sekali lagi, itulah hidup sobat! Kalau nggak seperti itu, hidup kita pasti monoton. Kalau semua dilancarkan, kalau tidak ada orang yang merasa kehilangan, kalau nggak ada orang sedih, kalau nggak ada mereka yang hidup serba kekurangan, kita PASTI nggak akan punya pembanding. Dan yang pasti kita akan sulit, bahkan akan lupa untuk bersyukur.
Adanya kehilangan, kesedihan, kekecewaan, kematian, kekurangan, suka, senang, bahagia, dan kaya, itu sebagai pengingat bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kesedihan nggak abadi, kebahagiaan juga nggak. Semua akan terus bergulir, silih berganti..
So, emang kudu sabar, rek! Walaupun sabar itu emang susaaaaah bangett. Apalagi sabar disertai ikhlas, uh, seandainya saya bisa... Mari belajar sabar dan ikhlas..
Btw sob, kemarin-kemarin... Halah, gak jelas nih! Ya oke, tanggal 10 Juni 2009, see? Saya dapat ujian. Dibilang berat, ya berat karena memang nggak mudah saya melewatinya. Dibilang ringan, juga ringan karena masih banyak orang yang mendapat ujian lebih berat, bahkan teramat sangat berat dibandingkan saya.. Dan ujian yang saya alami ini ndak ada apa-apanya sama mereka. Tapi, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNYA?
So, kembali lagi, yang diperlukan adalah bersyukur, bersabar, dan ikhlas. Mudah mengatakan, tapi sulit dilaksanakan. Dan sekali lagi, mari belajar bersyukur, bersabar, dan ikhlas..
Di tengah ujian yang saya hadapi, saya baru menyadari bahwa saya dikarunia anak sahabat yang sangat-sangat baik. Shabat berbagi, bercanda ria.. Ada Mbak Dian, Mbak Rika, juga Eni.. Ada Bunda Menik, Pepi, Phie, Aji, Wendut, Presty, Boodee, Ina, dan teman-teman di luar sana yang dengan sabar memberi saya dukungan, tak bosan mengingatkan agar saya mengingat kekuatan Allah.. Agar saya ikhlas..
Ada Ali, Alwan, dan Budi yang dua hari terakhir ini gitaran sambil nyanyi biar saya nggak sedih. Gitarannya gantian, nyanyinya juga gantian! Ali, teman yang bersikap konyol demi melihat saya tertawa... Semua demi melihat saya tetap tegar dan ikhlas.. Uuhh, thanks all...
Ada Astri dan Uli, kaka beradik yang udah baiiiiik banget. Mereka berdua yang becandain biar saya ceria, ngajak jalan-jalan, dan berbagi tentang semua hal..
Dan ada Ari Susanti, teman kuliah, yang sudah lebih dari seorang sodara. Thanks, kri! Meski jarak memisahkan kita, saya di Kalimantan dan dia di Lampung, dialah orang pertama yang saya hubungi ketika terjadi sesuatu. Dia, sahabat yang mendengarkan cerita saya meski sambil masak, sambil cuci piring, sambil ketiduran.. Dengan dia, saya berbagi suka dan duka, semuanyaaaa dari yang paling pelik sampai yang bikin menye-menye..
All, thanks for hugging me, hearing me eventhought I did something terrible..
Sedikit Refleksi Diri
Sabar. Kata yang hanya terdiri dari lima huruf ini sulit sekali diterapkan. S-A-B-A-R. Ah ya, saya sering sekali berkata, 'yang sabar ya' ketika teman bercerita tentang masalahnya.
Saya juga kerap kali berkata pada diri sendiri, 'Sabar thie, buah sabar itu sangat manis dan indah'. Selalu demikian. 'Sabaaarr' *manggil nama orang*
Tapi pada kenyataannya, spirit tinggallah spirit karena toh, saya masih saja tidak sabar. Malu rasanya ketika mengucapkan, 'yang sabar ya' tapi diri ini belum mampu menerapkan sifat Rasulullah yang indah ini.
Sampai pada suatu hari, saya tertegun dan akhirnya menangis. Apa yang sudah saya katakan pada adik di pulau sebrang sana. Saya meluapkan ketidaksabaran ketika adik berbicara panjang lebar, mengeluhkan ini dan itu, dan tetek bengek lainnya. Sedangkan jawaban saya?
Yang saya rasakan pada saat itu, saya juga sedang dirundung kesedihan, saya di sini sendiri, saya sudah..ah, banyak ketidaknyamanan yang saya rasakan. Dan dia?? Itu yang saya rasakan, dan ketidaksabaran pun meluap. Adik saya diam, saya juga diam. Kemudian, yang ada hanya senyap.
Dua jam setelah saya telepon adik, saya membaca artikel sambil mendengarkan lagunya Kang Oppick. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba butiran bening jatuh di pipi saya. Saya baru sadar, saya bukan penyabar. Saya masih jauh dari sabar.
Tidak menunggu lagi, saya langsung telpon adik, mendengarkan apa yang dia minta, mendengarkan apa yang dia alami, dan memperbaiki kesalahan..
Saya janji, saya harus bangkit. Saya tidak mau terus menerus dirundung kesedihan karena masalah yang tak layak membuat sedih. Kesedihan yang justru mengabaikan keluarga, teman dan kehidupan lainnya. Kesedihan yang membuat kesabaran saya mengikis. Its enough.
Kemarin sore, seorang sahabat mengingatkan saya tentang kematian. Tentang teman dari sahabat saya yang dipanggil kembali olehNYA. ‘Inna lillah wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya semua milik Nya dan akan kembali padaNya). Ah iya, semua pasti akan kembali padaNYA. Bukankah semua hanya pinjaman dari Allah? Termasuk semua yang ada di sekitar kita, semua yang kita miliki adalah pinjaman dan pasti akan kembali.
Bahkan napas kita yang sering kali dianggap milik kita, adalah property-NYA. Tidak ada yang bisa mengelak ketika Sang Pemilik kembali mengambilnya, pun juga tidak ada yang bisa mencegah. Kulit yang tiba-tiba mengeriput juga atas KuasaNYA. Daun yang jatuh pun atas Kuasanya. Tidak ada yang terjadi di dunia ini, selain atas kehendakNYA. Betapa kita tidak berdaya. Betapa kita tidak ada apa-apanya..
Saatnya memperbaiki diri dan meraih cintaNYA. Semoga istiqomah. Amiiin. Yuk perbaiki diri. Ada yang mau dengerin dan resapi lagunya Kang Oppick ft Gito Rolis?
Saya juga kerap kali berkata pada diri sendiri, 'Sabar thie, buah sabar itu sangat manis dan indah'. Selalu demikian. 'Sabaaarr' *manggil nama orang*
Tapi pada kenyataannya, spirit tinggallah spirit karena toh, saya masih saja tidak sabar. Malu rasanya ketika mengucapkan, 'yang sabar ya' tapi diri ini belum mampu menerapkan sifat Rasulullah yang indah ini.
Sampai pada suatu hari, saya tertegun dan akhirnya menangis. Apa yang sudah saya katakan pada adik di pulau sebrang sana. Saya meluapkan ketidaksabaran ketika adik berbicara panjang lebar, mengeluhkan ini dan itu, dan tetek bengek lainnya. Sedangkan jawaban saya?
Yang saya rasakan pada saat itu, saya juga sedang dirundung kesedihan, saya di sini sendiri, saya sudah..ah, banyak ketidaknyamanan yang saya rasakan. Dan dia?? Itu yang saya rasakan, dan ketidaksabaran pun meluap. Adik saya diam, saya juga diam. Kemudian, yang ada hanya senyap.
Dua jam setelah saya telepon adik, saya membaca artikel sambil mendengarkan lagunya Kang Oppick. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba butiran bening jatuh di pipi saya. Saya baru sadar, saya bukan penyabar. Saya masih jauh dari sabar.
Tidak menunggu lagi, saya langsung telpon adik, mendengarkan apa yang dia minta, mendengarkan apa yang dia alami, dan memperbaiki kesalahan..
Saya janji, saya harus bangkit. Saya tidak mau terus menerus dirundung kesedihan karena masalah yang tak layak membuat sedih. Kesedihan yang justru mengabaikan keluarga, teman dan kehidupan lainnya. Kesedihan yang membuat kesabaran saya mengikis. Its enough.
Kemarin sore, seorang sahabat mengingatkan saya tentang kematian. Tentang teman dari sahabat saya yang dipanggil kembali olehNYA. ‘Inna lillah wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya semua milik Nya dan akan kembali padaNya). Ah iya, semua pasti akan kembali padaNYA. Bukankah semua hanya pinjaman dari Allah? Termasuk semua yang ada di sekitar kita, semua yang kita miliki adalah pinjaman dan pasti akan kembali.
Bahkan napas kita yang sering kali dianggap milik kita, adalah property-NYA. Tidak ada yang bisa mengelak ketika Sang Pemilik kembali mengambilnya, pun juga tidak ada yang bisa mencegah. Kulit yang tiba-tiba mengeriput juga atas KuasaNYA. Daun yang jatuh pun atas Kuasanya. Tidak ada yang terjadi di dunia ini, selain atas kehendakNYA. Betapa kita tidak berdaya. Betapa kita tidak ada apa-apanya..
Saatnya memperbaiki diri dan meraih cintaNYA. Semoga istiqomah. Amiiin. Yuk perbaiki diri. Ada yang mau dengerin dan resapi lagunya Kang Oppick ft Gito Rolis?
Cukup Bagiku
Penuhi jiwa ini dengan satu rindu
Rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu
meski tak layak ku harap debu cintaMu
meski begitu hina ku bersimpuh
Cukup bagiku Allah segalanya untuk-ku
Di hatiku ini penuh terisi segala tentang Allah
Kepada Nabi Muhammad tercurah solawat Allah
Tiada Tuhan selain Allah cukup bagiku Allah
Hasby Robbi Jalallah
Ma fi qalby Ilallah
'Alal hadi Sollallah
Laa Ilaa ha Illallah
Labels:
Pribadi
Sebutan 'KAMU'
# Dialog di sebuah rumah, di Lampung. Entah kapan saya lupa, yang pasti dalam rentang 2002 sampai 2005. Saya bertanya pada seorang perempuan, yang darinya saya banyak belajar. Kira-kira begini dialognya:
##Dialog di suatu malam dengan seorang bunda. Di sebuah jendela YM yang penuh canda. Dan mengajukan pertanyaan yang sama.
Ya, saya memang sengaja menanyakan itu pada orang-orang yang sudah menikah. Buat saya, sebutan 'kamu' untuk orang yang tersayang kurang sreg. Bukan... Bukan karena kurang sopan atau tidak menghargai. Cuma kurang nyaman. Duh, saya kesulitan membahasakannya. Tapi kurang lebih begitu.
Saya pikir, panggilan mesra dalam sebuah pernikahan bisa dimulai dari ketika kita bertemu dengan si dia yang kelak menjadi suami/istri kita. Ketika dari awal sudah terbiasa dengan panggilan, elo-gue, kamu-aku, aku-awak, dsb.. Maka, akan sulit mengubahnya.
Ini pendapat orang yang terlalu serius mungkin. Ya, karena saya menganggap pacaran itu sebagai ajang untuk belajar sebelum kita memasuki gerbang kehidupan baru. Belajar untuk memahami si dia, belajar mendampinginya dalam suka dan duka, belajar menghargainya, dan belajar banyak hal lainnya. Jadi, ketika memasuki pernikahan, akan terbiasa.
Cuma contoh nih ya. Seorang istri memecahkan piring. Pada saat bersamaan suaminya melihat dan berkomentar:
Bandingkan dengan komentar ini:
Kalau menurut saya, komentar terakhir lebih soft ketimbang komentar pertama. Entah kenapa.
Ini hanya pendapat saya pribadi. Saya tidak menafikan diri, panggilan 'kamu', 'elo' atau 'awak' sekalipun tidak masalah. Karena saya juga sering ber'kamu-kamu, ber-elo elo' dengan teman.
Tapi untuk orang yang tersayang, tetap dengan panggilan sayang yang khas, yang spesial, yang khusus.
Ini hanya soal selera, soal rasa. Selebihnya, terserah sodara. :-)
Saya : Tante, om pernah nggak manggil tante pake kata 'KAMU'?
Tante: Nggak pernah thie, dari sejak pacaran. Kalau dia sudah pakai kata 'KAMU' berarti dia sedang marah.
Saya : (senyum) seneng ya tan?
Tante : Dulu om manggil tante, dik. Tante manggil om, mas. Setelah punya anak, ya ayah-ibu. Tapi sangat jarang, om marah dan nyebut 'kamu'.
Saya : (senyum lagi) om waktu pacaran gimana tan? *mengalihkan pembicaraan****
##Dialog di suatu malam dengan seorang bunda. Di sebuah jendela YM yang penuh canda. Dan mengajukan pertanyaan yang sama.
Saya : Bun, ayahnya kaka pernah manggil bunda pake kata 'kamu' gak?
Bunda : Gak, dia anti sangaaaaaattttttt. Alesane, kayak sama yang gak kenal. Pernah waktu awal pacaran, aku manggil 'kamu'. Dia lgsg nutup telpon.
Saya : wohooooo.. aku bangeettt tuh... :-)
Dan chating berlanjut dengan cerita-cerita lucu, membahas emoticon yang nggilani, sampai ngerjain kriwel yang sudah berganti appearance :)***
Ya, saya memang sengaja menanyakan itu pada orang-orang yang sudah menikah. Buat saya, sebutan 'kamu' untuk orang yang tersayang kurang sreg. Bukan... Bukan karena kurang sopan atau tidak menghargai. Cuma kurang nyaman. Duh, saya kesulitan membahasakannya. Tapi kurang lebih begitu.
Saya pikir, panggilan mesra dalam sebuah pernikahan bisa dimulai dari ketika kita bertemu dengan si dia yang kelak menjadi suami/istri kita. Ketika dari awal sudah terbiasa dengan panggilan, elo-gue, kamu-aku, aku-awak, dsb.. Maka, akan sulit mengubahnya.
Ini pendapat orang yang terlalu serius mungkin. Ya, karena saya menganggap pacaran itu sebagai ajang untuk belajar sebelum kita memasuki gerbang kehidupan baru. Belajar untuk memahami si dia, belajar mendampinginya dalam suka dan duka, belajar menghargainya, dan belajar banyak hal lainnya. Jadi, ketika memasuki pernikahan, akan terbiasa.
Cuma contoh nih ya. Seorang istri memecahkan piring. Pada saat bersamaan suaminya melihat dan berkomentar:
"KAMU hati-hati dong kalo bawa piring" (misal nih ya..)
Bandingkan dengan komentar ini:
"BUNDA, hati-hati dong kalo bawa piring" (misaaaaaall)
Kalau menurut saya, komentar terakhir lebih soft ketimbang komentar pertama. Entah kenapa.
Ini hanya pendapat saya pribadi. Saya tidak menafikan diri, panggilan 'kamu', 'elo' atau 'awak' sekalipun tidak masalah. Karena saya juga sering ber'kamu-kamu, ber-elo elo' dengan teman.
Tapi untuk orang yang tersayang, tetap dengan panggilan sayang yang khas, yang spesial, yang khusus.
Ini hanya soal selera, soal rasa. Selebihnya, terserah sodara. :-)
**********************
Labels:
panggilan sayang,
Pribadi
LDR, LDL, PJJ
Jadi kepincut pengen beli, tapi udah muter-muter toko buku belum ketemu juga. Sabar dulu deh, sudah dipesan kok. Semoga toko buku langganan saya secepatnya order ke Surabaya.
Cepetan datang yo mbak, lak tak batalin order e..
Kembali ke long distance relationship (LDR)-istilah lain pacaran jarak jauh dan LDL.
*udah tau ya? Haha! yang pasti bukan MDML* Fokus thieeee..!!
Oke, jadi begini, menurut saya pelaku LDL (nunjuk diri sendiri, Phie, dan Bunda Menik) atau yang menjalani hubungan jarak jauh memerlukan dedikasi, butuh etos kerja cinta, dan saling percaya untuk sampai ke tujuan.
Bagaimana tidak, hubungan yang mengarungi dimensi jarak dan waktu tak terhingga bukan sesuatu yang gampang, kalau tidak mau dibilang sulit. Butuh DETOSPER: DEDIKASI, ETOS KERJA CINTA, dan saling PERCAYA. (Singkatan yang memaksa).
Mari kita bedah DETOSPER!
Dedikasi. Cinta tanpa dedikasi dari dua insan pecinta, menurut saya akan rentan tergoda. Karena dedikasi melibatkan kesabaran (patience), keuletan (persistence), kesetiaan (loyalty), dan kerja keras (hard-work). Silakan artikan dedikasi dalam kehidupan cinta sodara.
Dedikasi tanpa komunikasi juga sulit terwujud, karena hanya akan memunculkan rasa penasaran, bertanya-tanya, dan ujungnya adalah curiga. Kalau sudah curiga, bagaimana bisa percaya? Padahal yang terpenting dari LDR adalah saling percaya.
Kemudian komunikasi. Komunikasi yang mengganggu kehidupan masing-masing (pekerjaan atau produktivitas kedua pihak), lambat laun juga akan menimbulkan perasaan jenuh, merasa selalu diawasi, dan deretan ketidaknyamanan lainnya. Buat yang suka nelponin pacar setiap jam, jangan tersinggung ya! Cowok gak suka lho digituin, kayak gak percaya ajah!
Etos kerja cinta dalam pandangan saya menjadi penting. Kenapa? Karena ini berkaitan dengan motivasi menjalani hubungan, pandangan dasar atas hubungan cinta keduanya. Etos kerja cinta juga berkaitan dengan komitmen yang mendasari hubungan itu sendiri. Masih bingung? Tanyakan pada pacar sodara!
Terakhir, saling percaya. Apapun bentuk hubungannya, mau yang tetanggaan, mau yang satu kantor, mau yang terpisah oleh pulau dan benua, kalau tidak saling percaya ya susyaaaahhhh. Jadi, sodara percaya kaaaan??
Buat para pelaku LDR, selamat mengarungi bahtera cinta dengan DETOSPER, Insya ALLAH akan mengantarkan sodara sampai tujuan dengan selamat. Insya ALLAH.
*Udah dulu yah, posting bersambung neh, butuh banyak postingan*
Ceritakitadotcom
Menjelang siang, saya kepikiran pengen punya blog sendiri. Gak harus serius, cukup jadi rumah pribadi yang nyaman. Tapi kalo bisa dapatin uang dari blog juga gak nolak.
Atas rekomendasi Bunda Menik untuk ke DJ.com, saya pun mengontak langsung sama dua admin DJ. Memilih paket, walaupun ternyata salah pilih paket. Untung ada admin yang berbaik hati menyarankan ini dan itu, sampe bukain cPanelnya segala! Secara saya gak ngerti blas soal begituan, masih belajar euy!
Sorenya, setelah bertransaksi -ini juga bermasalah karena salah paket
Eniwei, makasih buat Bunda Menik yang dengan sabar menjadi dosen dadakan 2x45 menit, malam itu juga. Untung mahasiswinya jenius yo bun...
*Ini cuma apdet biar kesannya gak males*
Subscribe to:
Posts (Atom)