Aku ingin engkau ada disini
Menemaniku saat sepi
Menemaniku saat gundah
Berat hidup ini tanpa dirimu
Ku hanya mencintai kamu
Ku hanya memiliki kamu
Reff:
Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu
Aku rindu setengah mati
Meski tlah lama kita tak bertemu
Ku slalu memimpikan kamu
Ku tak bisa hidup tanpamu
Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu
Ku tak bisa hidup tanpamu
Aku rindu…
**D Masiv – Rindu Setengah Mati Feat Kevin Vierra
Adakah di antara teman-teman yang hafal dengan lirik lagu di atas? Atau familiar mendengarkan lagu itu?
Hmm... pasti sebagian besar jawabannya IYA! :D *ngasal*
Saya tidak sedang mengajak teman-teman untuk main tebak-tebakan, pun mengajak untuk menghafal liriknya atau sekedar mendengarkannya. Tidak. Saya sedang teringat dengan pengamen kecil di metromini (Kopaja) yang sering saya tumpangi.
Malam hari, bulan Februari 2010. Tanggalnya lupa.
Dalam kondisi penat, diiringi suara mesin metromini yang menderu, dan hujan deras yang seolah tumpah ruah dari langit, lamat-lamat terdengar suara anak kecil menyanyikan lagu itu. Hampir tidak terdengar! Meski semua penumpang diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Saya yang semula setengah memejamkan mata sembari berdoa, merasa terusik dan terjaga mencari-cari suara siapa gerangan.
Setengah kaget ketika saya mendapati anak kecil yang usianya baru enam tahun (perkiraan saya) mencubit lehernya sendiri agar suaranya bisa terdengar oleh orang lain! Setengah berteriak dia menyanyikan lagu itu. Padahal belum tentu penumpang yang ada di dalam metromini terhibur. Padahal belum tentu penumpang peduli dengan keberadaannya. Bahkan mungkin ada yang tidak senang dengan kehadirannya.
Saya cek jam dari handphone. Sudah lewat pukul sembilan malam. Oh Tuhan.. Sudah jam segini dan bocah kecil ini masih mengais rupiah di tengah hujan deras dan dinginnya malam tanpa alas kaki. Hanya berbalut kaus dan celana pendek lusuh! Fiiuuuuhhh...
Tiba-tiba, mata saya panas. Sedih. Bahkan ketika menulis postingan ini. Perih rasanya melihat perjuangan hidupnya.
Allahu Robbi... Limpahkan rizki kepadanya.
.
.
.
.
.
.
Pada kesempatan lain, di metromini yang berbeda, saya menemukan beberapa pengamen yang menyanyikan lagu di atas. Dan tiap kali mendengarnya, saya teringat anak kecil yang saya temui malam itu. Anak kecil yang berusaha mencari uang dengan menghibur penumpang. Meski dia tidak tahu keberadaannya di metromini dianggap apa oleh mereka yang 'beruang'.
Selamat weekend.. Apakah teman-teman juga menemukan pengamen dengan lagu yang sama?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sejak lagu itu ada,blm pernah naik metromini lg hehe..
ReplyDeletesumpah, belum pernah denger pengamen nyanyi itu!... :-)
ReplyDelete`anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, lemah jarimu terkepal coba pecahkan karang...` dari Opa Iwan Fals, nak
ReplyDeletejarang pergi jadi jarang naik metromini.
ReplyDeleteuntung ya Tie di P.Bun gak da pngamen diangkot hehe..
ReplyDeletepengamen, dikasihani sekaligus dibenci
ReplyDeletemisiii tantee.. numpang ngameen..
ReplyDelete"Aku tak mau kalo akuu dimaduu...pulangkan saja padaa orangtuaku..ah..ah..."
semoga anak kecil itu diberi jalan untuk mengenal Tuhannya dengan lebih baik, agar ia dapat memahami dan menerima setiap episode hidup dengan bijak.
ReplyDeletesegala yg terbaik semoga diberikan padanya
*lagi terharu2nya baca, eh tiba2 ngakak baca komen di atas :D
misiii tantee.. numpang ngameen..
ReplyDelete"Aku tak mau kalo akuu dimaduu...pulangkan saja padaa orangtuaku..ah..ah..."
tiap liat anak kecil di perempatan jalanan ngamen ujan-ujan, aku mesti ndaktega..
ReplyDeletetapi juga ndak berdaya..
pake baju apa anak kecil itu? masih ingat kah?
ReplyDeletesangat miris melihat itu semua namun akupun belum bisa melakukan apa-apa
ReplyDeletesemoga dia bisa lebih baik
ReplyDeleteoh ya salam kenal sob
semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur..
ReplyDeleteSaya selalu dilematis bertemu anak-anak pengamen ini. Mau dikasih kok nggak mendidik, mau nggak dikasih kok ya melaaaaaaas banget....
ReplyDelete