Working Mom dan Breastpump Andalan!


Setelah menjadi working mom, perlengkapan yang saya bawa untuk ngantor pun bertambah. Tidak hanya bekal nasi untuk makan siang, tetapi juga empat botol kaca untuk menampung ASI, ice gel besar, cooler bag, dan breastpump.
Barang-barang ini wajib hukumnya untuk selalu dibawa ke kantor. Alhasil, tiap hari saya bawa dua tas. Satu tas kantor biasa dan satu tas cooler bag. Tapi yang berpenampilan begini tidak hanya saya. Banyak sekali ibu-ibu muda di KRL yang juga nenteng-nenteng  'peralatan perang' demi membawa oleh-oleh ASI untuk sang buah hati. *yaelaaahhh bahasa gue* 


Seperti yang saya tulis di sini, pada jam-jam kantor saya pumping ASI sebanyak empat kali. Jam 09.00, 12.00, 14.00,  dan 16.00 WIB.
Satu kali sesi pumping, bisa dapat ASI sebanyak kurang lebih 100ml. Semua dilakukan dengan bantuan breastpump.

Bicara tentang breastpump, saya jadi tertarik untuk berbagi cerita tentang bagaimana saya menggunakan breastpump.
Sejak mengetahui bahwa saya hamil, saya sudah mencari tahu apa saja kebutuhan ibu hamil, bayi, pasca melahirkan dan saat menyusui. Dan salah satu yang paling penting adalah breastpump. Apalagi setelah saya memutuskan untuk tetap bekerja setelah melahirkan.

Breastpump yang pertama dibeli adalah breastpump manual model jadoel. Lupa merknya apa. Bentuknya mirip terompet penjual keliling yang bunyinya 'towet-towet'. Hehe.
Not recommended laaahhh. Selain khawatir ada bakteri yang masuk, bulatan untuk menyedot ASI-nya pun super keras. Jadi butuh tenaga ekstra supaya ASI bisa keluar. Wajar sih ya, lha wong harganya saja cuma Rp13.000. :))

Breastpump kedua, saya melirik yang elektrik. Merknya Little Giant. Harganya Rp250.000. Dengan harga yang lumayan terjangkau, breastpump ini bekerja dengan baik. Paling nggak buat saya. Hasil pumpingnya pun lumayan banyak. Tapi ini sih tergantung dengan produksi ASI tiap ibu yaaa... Daaann praktis!
Kelemahan breastpump ini, agak sakit saat digunakan. Memang ada pengaturnya. Tapi, kalau saya setting dengan kekuatan terendah, sedotannya juga berkurang. Jadi, saya akali dengan menggunakan kekuatan terendah di awal pemakaian, setelah mulai terbiasa kekuatannya diperbesar. Tapi yaaa teteup sakit.. :D

Breastpump ketiga yang saya coba pakai adalah Medela Mini Elektrik. Pakai breastpump Medela saya merasa lebih praktis lagi. Selain sakitnya berkurang, hasilnya pumping ASI-nya lebih banyak, juga waktu pumping yang semakin singkat. Yaaiyyy!
Kelemahannya, suaranya berisiiiiik! Kalau pumping malam hari, si kecil terbangun gara-gara mendengar suara si Medela ini. Selain itu, penggunaan baterainya juga lebih boros.

Breastpump ke empat, saya mencoba breastpump manual merk Avent Philips. Meski manual, breastpump ini enak dipakai. Memang lumayan pegal sih, tapi nggak sakit saat digunakan. Untuk ukuran breastpump manual, Avent ini cukup cepat dipakai pumping. Hasilnya pun tidak kalah dengan yang elektrik.

So? Pilihan saya yang mana? Saya pilih Medela Mini Elektrik, kalau dekat dengan colokan listrik. Pilih Avent Philips kalau lagi nggak ada colokan listrik atau lagi mobile.

Btw, pernah satu hari saya lupa bawa corong breastpump. Rasanya pengen nangis! Akhirnya kepikiran untuk pumping dengan metode Marmet. *kapan-kapan saya tulis soal ini*
Dengan metode Marmet, ternyata hasilnya nggak kalah sama pumping pakai breastpump. Praktis pula. Hanya saja, waktu pumpingnya jadi lebih lama.

*Foto: dari koleksi pribadi.
** Hanya review pribadi setelah mencoba beberapa breastpump.
*** Kira-kira pakai Medela Swing, Medela freestyle, dan Avent elektrik gimana ya rasanya? Uni mom? Atau Core? Atau Pigeon? =))

2 comments:

  1. perempuan tuh emang luar biasa ya... bener2 multitasking. semua sisi kehidupannya harus jalan sesuai yg digariskan... perempuan memang hebat...!!

    ReplyDelete

 
Cerita Kita Blog Design by Ipietoon