Saya tidak akan tahu apa itu madre, jika tidak membaca buku kumpulan cerita ini. Dari sampulnya pun, saya sudah gagal menebak.
Ternyata buku ini bercerita tentang seorang Tansen, si pemuja kebebasan, yang tiba-tiba mendapat warisan dari orang yang tidak pernah dikenalinya. Warisan itu berupa madre. Sebuah benda yang mustahil bagi Tansen untuk diwariskan. Ya, madre!
Madre dalam bahasa Spanyol berarti ibu. Madre adalah adonan biang untuk membuat roti. Tan, pemilik Tan de Bakker mewariskan adonan biang ini untuk Tansen, yang ternyata adalah cucunya.
Cerita yang dari awal membuat pembaca penasaran ini berhasil mengajak saya untuk segera menuntaskannya.
Madre adalah ide brilian dari seorang Dewi Lestari yang mampu mengangkat tema unik menjadi tulisan menarik.
Sayangnya, kompleksitas cerita ini hanya ada di awal. Berikutnya, mengalir dan mudah ditebak endingnya.
Cerita lain dalam buku ini yang menurut saya menarik adalah Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan. Dialog tentang cinta dan Tuhan dalam cerita ini mengusik definisi pribadi saya. Sungguh, tulisan yang mampu mengubah perspektif pembacanya. Jenius!
Dewi Lestari juga menulis prosa dalam buku ini. Percakapan di Sebuah Jembatan, Wajah Telaga, dan Barangkali Cinta menjadi favorit saya.
Ini kutipan pendeknya:
'Izinkan wajahku bersuara apa adanya. Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur. Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya.
'Pastilah cinta. Yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya. Demi memahami dirinya sendiri.'
Sorry kalau ternyata ada spoiler. Cuma review ringan.
Selamat membaca!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
jadi penasaran
ReplyDeletetapi kumpulan crita ya mba? hmm
sering ga sreg klo kumpulan gitu
tapi ... tar deh liat jadi beli ga ya hehehe
penasaran juga sama si Tansen dan madre nay :D
Iya mbak, agak kurang 'greng' sih yaaa.. :D
Deletetapi lumayan laahhh
dr dlu pengen baca,tapi belom ksampaian
ReplyDelete*.*
ayo mbak, dibeli dan dibaca. heuheu
Deletebagus mana sama perahu kertas?
ReplyDeletebagusan perahu kertas, Mbak.
Deletemadre dan filosofi kopi cocok dinikmati dengan menyeruput hangatnya cappucino..;)..
ReplyDelete