Kata 'udik' merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti desa, kampung, atau dusun. Namun, kata ini (udik) sering kali dikonotasikan dalam sejumlah kalimat yang negatif. Misal, 'orang udik' yang artinya orang dusun. Akan tetapi, kalimat 'orang udik' lebih sering dikaitkan pada kebodohan atau ketertinggalan.
Padahal, apabila diartikan secara harfiah bisa berarti orang yang berasal dari kampung, seperti saya. Saya ini orang kampung (gadis desa tepatnya hahaha), tapi saya ndak bodoh yaaa... Heee.. Fokus ah!
Nah, kalau yang pulangnya ke kota besar, seperti Surabaya, Semarang, Bandung atau Jogja apa masih disebut mudik dan pulkam? Atau sudah ada istilah baru,'pulkot' mungkin?? Ada yang tahu?
Baiklah, saya tidak akan berpanjang-panjang membahas istilah mudik. Yang jelas, saat ini saya sedang kecewa. Sudah jauh-jauh hari saya memikirkan kapan saya bisa mengambil cuti, lalu mudik naik apa, bujet berapa, dan lain-lain.. Tapi giliran saya pesan tiket pesawat, sudah habis semua. Hiks! Padahal kepulangan saya masih jauh.. huaaa... *Nangis darah*
Sebenarnya, saya 'sedikit' maklum kalau sekarang tiket pesawat sudah habis. Karena, di kota kecil bernama Pangkalan Bun, yakni ibu kota Kotawaringin Barat hanya ada dua maskapai penerbangan, Riau Airlines (RAL) dan Indonesia Air Transport (IAT).
Sekedar gambaran, pesawat RAL hanya mampu menampung 108 orang, sedangkan pesawat milik IAT hanya 48 orang. RAL melayani rute Pangkalan Bun-Jakarta (PP) dan Pangkalan Bun-Semarang. Nah, untuk IAT, melayani rute Pangkalan Bun-Semarang (PP) dan beberapa kota di regional Kalimantan. Dua maskapai inilah yang melayani transportasi udara di Pangkalan Bun.
Yang menjadi pertanyaan, apakah dua maskapai ini sudah cukup mengakomodasi kebutuhan sekitar 237.000 penduduk Kabupaten Kotawaringin Barat? Belum ditambah dengan kabupaten-kabupaten sekitar yang nggak punya bandara. Jelas kurang lah yaaa... *dijawab sendiri* Apalagi mendekati lebaran seperti sekarang ini.
Seharusnya, menurut hemat saya, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bisa mengatasi persoalan ini dengan meminta tambahan pesawat yang beroperasi atau menjalin kerja sama dengan maskapai penerbangan yang lain. Bukankah kemudahan aksesibilitas menjadi faktor penting untuk kemajuan suatu daerah? Kalau daerah mudah diakses, investor kan juga mudah datang.. Apalagi Kabupaten Kotawaringin Barat kan lumayan kaya. Kaya perkebunannya, hasil hutannya, tambangnya, pariwisatanya.. Hee.. Sok tau ah!
Oke, saya kurang tahu dan belum tahu, bagaimana perbandingan ideal antara jumlah penduduk dan moda transportasi udara di sebuah kabupaten, khususnya di Kalimantan Tengah.
Dengan jumlah penduduk sekitar 237.000, analisis kebutuhan transportasi udara berapa, khususnya untuk ke Pulau Jawa. Kenapa Pulau Jawa? Karena banyak perantau dari Jawa. *menjawab dengan polosnya*
Sampai di sini, adakah di antara blogger yang bisa sharing informasinya? Khususnya tentang perbandingan ideal jumlah penduduk dan moda transportasi udara.. Pliiis, bagi-bagi domz..!
*Tulisan ini bukan untuk mengabaikan transportasi laut dari Kalimantan ke Jawa, melainkan karena alasan: Dengan pesawat, jarak Kalimantan-Jawa jadi terasa lebih dekat. Yeiy!
Selamat berpuasa di hari pertama Ramadhan. Semoga kita semua bisa menjalaninya dengan sempurna..
Ya udah... walau dgn naik pesawat jaraknya terasa lebih dekat, naik kapal juga asik kok :wink:
ReplyDeleteApa-apa yang kita temui bs jadi bahan buat tulisan yang menarik, so... laa tahzan innallaha ma'ana... Tetap semangkaaa!!! (rock)
ethie bilang>> betul, cici... akan menjadi tulisan yang menarik. lho, kok semangka??? (LOL)
awal yang baik
ReplyDelete